trafficking

Saat terbangun pagi tadi, saya kaget melihat perempuan mungil berdiri di depan pintu kamar. Ketika saya tanya, ternyata ia salah satu penghuni rumah utama tempat saya kost. Saya tinggal di sayap kanan, di lantai dua. Sementara rumah utama di tengah, hanya satu lantai. Dan sayap kiri terdiri dari tiga lantai yang sepertinya hanya digunakan sebagai tempat usaha sarang burung walet.

Baru kali ini saya melihat perempuan itu dan memang hanya sekali ini ada penghuni rumah bawah yang naik ke tempat saya tinggal. Melihat rasa ingin tahunya demikian besar sampai mengintip2 kamar saya dari jendela, saya mengajaknya masuk kamar untuk mengobrol. Wajahnya polos. Kulitnya coklat. Hidungnya agak kecil. Matanya terlihat awas, bergerak-gerak terus.

Dia cerita baru tinggal di rumah itu dua hari. Ia berasal dari Balangan, Kalimantan Selatan. Katanya ia masih ada hubungan keluarga dengan bapak kost. Usai lebaran kemarin ia dijemput ke rumahnya dan atas izin ibunya ia ke Balikpapan untuk bekerja di restoran.
“Ternyata bohong. bukan di restoran tapi kerja di rumah. Saya ditipu. Capek, mau pulang saja,” katanya dengan logat melayu.

Kutanya umur, ia bilang jalan 14 tahun.
“Hmmm…trafficking,” kata saya dalam hati.
Meski ada hubungan keluarga, tapi si perempuan diajak, tanpa dokumen, dijanjikan pekerjaan, tertipu pula. Intinya semua proses dan alur trafficking sudah terjadi. Tapi tanpa semua proses dan alur itu pun, ini jelas trafficking, karena si perempuan masih di bawah umur. Ia masih kanak- kanak. Katanya ia kelas 1 SMP, tapi keluar sebulan lalu karena malu badannya paling gede di kelas. Ia juga sering dimarahi guru karena malas mengerjakan tugas di papan tulis.

“Habisnya banyak, saya malas, malu ke depan kelas, udah besar,” katanya.
“Tapi saya tak betah disini, bapaknya bohong. Katanya kerja restoran, ternyata jadi pembantu,” katanya lagi.

Saya tanya apakah ia ingin pulang saja ke Banjar. Apalagi ia cerita sebenarnya bapaknya tak mengizinkan ia pergi dan menyuruhnya terus sekolah. Tapi ibunya memberinya izin. Ia pun ingin cari pengalaman kerja.
“Kalau masih kerja di rumah, saya pulang saja. Itu, kak y**** mulutnya jahat!” matanya berkaca- kaca saat mengucapkan itu.

“Kamu diapain? Apa katanya?” tanyaku
“Suka perintah-perintah. Sikit-sikit, marah. Salah sikit, ngomel. Kalau nyuruh, dia bilang: heh, ambil itu, babu!” matanya makin berair. Ia mendongak agar air matanya tak jatuh. Lalu membuang pandang menghindari tatapan saya ke arah jejeran buku-buku saya di rak dan di atas lemari.
Ia bertanya, “Kamu kuliah? Itu tivi beli sendiri?” Saya hanya menggeleng. Tak bisa mengucapkan apa-apa.

Jeda agak lama, saya bertanya, “Kamu mau pulang ke Banjar?”
“Kalau kerja di restoran, saya ndak pulang. Mau cari pengalaman. Kalau kerja di rumah, saya pulang saja. Mau kerja bungkus roti di Banjar. Tapi harus ada ijazah,” jawabnya.

“Kalau mau ijazah, sekolah dulu. Sekarang saatnya sekolah, bukan cari pengalaman,” kataku.
Ia terlihat bimbang sejenak. Lalu, “Tuh, di bawah, kak N****, kak Y****, belum bangun. Kalau di kampung, tak baik anak perempuan bangun siang. Di sini, saya kerja semua. Bangun jam 5 subuh, habis sholat nyapu, ngepel, masak, goreng ikan, nyuci. Kalau mesin rusak, pakai tangan. Pakaiannya banyak. Capek”.

“Kalau kerja di restoran pasti lebih capek daripada sekarang. Bangun sebelum subuh, tidurnya tengah malam. Ga ada waktu istrahat kayak sekarang. Mending sekolah,” kataku mempengaruhinya sambil terus berpikir, bagaimana memulangkan anak ini ke kampungnya. Rasanya terlalu berat membiarkan anak sekecil itu mengerjakan seluruh pekerjaan di rumah segede ini. Ia harus sekolah, bukan bekerja.

Tak lama terdengar langkah kaki menuju kamarku. Ia setengah meloncat ke pintu. Ada yang datang mencarinya. Saya khawatir ia tak boleh lagi naik ke kamarku untuk mengobrol. Jangan- jangan saya pun tak lama lagi harus pindah dari tempat kost ini. “Kata orang rumah bawah, disini tak ada orang. Ternyata bohong juga, ada orang disini,” begitu katanya tadi.

Bersama pencarinya, ia berlalu. Dan… aaahhh, saya lupa menanyakan namanya.

Iklan

5 thoughts on “trafficking

  1. akokow berkata:

    ikutan menghilang juga…

    hayo, sudah ikut Blog Action Day 2008 belum?

  2. goenoeng berkata:

    terusnya gimana ?

  3. pretty berkata:

    turut prihatin yati … trus bagaimana sekarang ? kalau dikasih duit buat pulang kampung, ibu kost-mu pasti marah ya ?

  4. yati berkata:

    iya, mba, kalo ketahuan :p tapi skrang saya ga pernah liat anak itu lagi. kepikiran juga sih…tapi kalo gw cari2 ntar malah bermasalah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s