berbuat apa?

Wajahnya menyiratkan keletihan. Keringat kecil menetes di dahinya. Sesekali matanya mengawasi anak lelaki berseragam SMP yang duduk berjauhan darinya. Suaranya di telepon bersaing deru angkot. Sesekali sopir meliriknya lewat kaca spion.

Sejak naik angkot dari depan sebuah sekolah hingga 30 menit perjalanan ke tempat tujuannya, ia terus berbicara di telepon. Suaranya naik turun dan sangat cepat. Bahasanya bercampur, Mandarin dan Indonesia.

Yang kutangkap dari obrolan panjang lebar dan cepat itu, dia tengah bersedih, sekaligus jengkel. Penyebabnya, sekolah yang barusan didatanginya menolak meloloskan anaknya. Alasannya, sekolah itu tidak menerima anak cacat. Hati saya ikut periiih mendengarnya. Ternyata ga cuma orang miskin yang ga bisa sekolah, anak cacat juga.

Kulirik anak yang duduk di bangku belakangku. Kaki kirinya bengkok? Atau mungkin lebih pendek dari kaki kanannya? Atau bentuknya silang? Entahlah. Saya takut anak itu menyadari saya meliriknya diam-diam. Tapi kata ibunya disela omelan di telepon itu, kaki anaknya silang. Sebelum naik angkot, kulihat jalannya memang pincang, seperti terhuyung-huyung.

Udah lama saya daftarkan, tapi baru tadi dijawab sama kepalanya, anak saya ga bisa diterima karena cacat. Katanya sekolahnya ga terima anak cacat. Saya disuruh daftar ke sekolah lain. Mana ada sekolah yang masih buka pendaftaran? Itu yang menjengkelkan. Dia baru ngomong sekarang. Kalau nolaknya dari dulu kan saya bisa cari sekolah lain. Dia ga tau gimana susahnya cari sekolah untuk anak cacat. Caranya sangat menghina. Mana ada anak yang mau lahir cacat seperti itu? Biarlah Tuhan yang balas. Tapi saya sedih sekali, susah cari sekolah. Dia ga bilang sebelumnya. Dia akan rasakan gimana nanti susahnya cari sekolah kalau keturunannya ada yang cacat. Biar, biar, Tuhan yang balas. Tapi anak saya ga bisa sekolah. Mungkin kalo lapor ke yang lebih tinggi bisa kali ya? Ke siapa?’

Saya ingin menyela, tapi tak ada jeda. Saya ingin berbuat sesuatu, tapi apa? Turun dari angkot menuju tempat akupuntur, dada saya sesak mengingat ibu-anak tadi. Apa iya anak cacat fisik ga boleh sekolah? Oh, jangan sampai pula anak itu ditolak karena matanya sipit. Ya Tuhan, manusia macam apa yang baru mereka hadapi?

Iklan

11 thoughts on “berbuat apa?

  1. merahitam berkata:

    Pendidikan dan kesehatan menjadi barang langka dan mewah di negeri ini. Tidak semua orang berhak menikmatinya.

    😦

  2. akokow berkata:

    Sekolah bukan cuma satu saja…pasti ada sekolah yang menerimanya 😀

  3. Juminten berkata:

    ummm… jd inget salah seorang juniorku di sekolah dulu yg kakinya jg pincang.
    dan dia… pintar!
    otaknya kan ga ada di kakinya…

  4. […] Karena keluarga nya miskin.Birokrasi membunuh kami,tuan!!!!!!! hambatan 4 : diskriminasi dari postingan mbak yati ini jelas, anak cacat masih susah mendapat tempat. di sekolah kakak saya, yang kebetulan dimiliki […]

  5. bangpay berkata:

    iya mbak.. dunia makin aneh, fisik dan uang yang jadi patokan.. tadi malam kami melihat sendiri perlakuan yang tidak manusiawi terhadap orang miskin dan cacat (lengkap dalam satu paket) kalo mau baca tulisan reportase bini saya di sini, sedang saya nulis ini saking marahnya.

    ke dua tulisan itu ditulis langsung setelah kejadian, dan tadi malam saya ndak bisa tidur. 😦

  6. CoDoT berkata:

    Bener nak juminten! kebanyakan orang kan otaknya gak terletak di dengkul..

    Bego aja tu sekolaan, pasti gurunya pada ngrangkep jadi kader parpol dee, hihi..

    —tuuuh yatt, aku dah koment.. tumben2an kaan

  7. gandhi berkata:

    duh… gini nih yg bikin emosi

    gak mikir apa kalo mozzart aja tunarungu bisa menghasilkan karya musik spektakuler?

    ayo mbak enaknya diapain tuh sekolah……

    *ikut emosi*

  8. mayssari berkata:

    Memang susah membuka mata dunia tentang keadilan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s