malam minggu

karena rindu jantungku menggelepar
seketika ponselku bergetar
ada namamu terpampang di layar

“I wish i’m with you now. Bikinin kamu teh hitam madu jahe yang rasanya aneh tapi bisa gw abisin sambil denger suara kamu. Bisa bikinin kamu telur goreng tanpa minyak, ga pake garam diantara irisan roti tawar untuk sarapanmu”

selalu saja rasa ini hadir di malam minggu
dadaku penuh debar menunggu
kau tak mungkin datang
kukirim saja doa panjang
kuselipkan di setiap serpihan nafasku
untukmu kekasihku

*hihihi…kesannya maksa deh :p

Iklan

perubahan

ini bukan soal pesimis, bukan pula ingin membunuh asa. tapi belajar dari pengalaman, jangan memupuk harapan terlalu tinggi, karena yang abadi adalah perubahan. dia atau kita mungkin telah berubah. bukan lagi manusia yang sama dengan kemarin. bukan lagi si anak manis. bukan lagi si idealis. militansi takkan pernah sama lagi. patron pun telah bergeser. meski sampai berbusa-busa mengoceh tentang objektifitas, penghapusan stigma masa lalu, jangan ditelan mentah2. ingat, setiap orang berubah. dan memang hanya perubahan yang abadi.

L-D-R

gw selalu tergelitik dengan pernyataan bahwa lelaki sebenernya adalah bayi raksasa yang selalu menuntut perhatian lebih, selalu pengen dimanja, dll, dsb, baik oleh pasangannya maupun oleh keluarganya. gw udah sering melihat buktinya, tapi yang gw alami kemaren, bikin gw lebih tergelitik lagi, geliii banget, hihihi….

ini cerita tentang salah satu petinggi di kantor gw, upsss… [semoga ga ada yang baca]. dia dikenal sebagai salah satu bos yang paling revolusioner deh, militan, dan segala gelar-gelar sangar itu. penampilannya juga gitu, sangar lah pokoknya. karena tugas ke daerah, dia terpaksa harus berjauhan dengan istri yang berada di ibukota sana.

lalu suatu petang kami ngobrol2 di kantin sambil leyeh2 di sofa. di tengah obrolan, hp-nya berdering. ia lalu tenggelam dalam obrolan bersuara pelan. berhubung jarak gw dengannya ga lebih dari 1/2 meter, gw masih bisa denger obrolannya.

orang di balik telepon (OdBT): blablabla…
dia: *cengengesan* iya…ini lagi di kantin, lagi mau makan
OdBT: blablabla…
dia: *masih senyamsenyum* iya sih… tapi blablabla… eh, gimana si kecil blablabla ?
OdBT: blablabla…
dia: iya, tapi keselll. [nada suaranya, sumpah, manjaaaa banget] iya… jadi gitu deh. rapaaaat melulu. dari pagi, trus siang, trus sore. kerja sampe malem, balik ke hotel jam 12 lewat, otomatis tidurnya jam 4 gitu. pagi-pagi udah harus di kantor lagi. capek [lagi-lagi, dengan suara manja]

satu per satu temen2 ngobrol beranjak dari tempat duduknya. obrolan yang tadinya seru mendadak sunyi. si bos tanpa sadar udah mulai merebahkan badan di sofa panjang sambil terus nempelin hp ke telinga. gw ga enak, lalu pelan-pelan beringsut menjauh dengan geli di hati. duh, LDR emang bikin gila. untung ada telpon yak!
buktinya LDR bikin gila, ini nih… tadi katanya tulisan ini tentang lelaki=bayi raksasa, taunya berakhir tentang LDR :p

semalam…

aku sedih melihatmu bermuram durja
maukah kau kuberi ruang yang lebih lapang?
aku gemetaran mendengar suaramu hanya sayup-sayup
maukah kau kuberi waktu untuk sendirian?
aku kesakitan mendengar isakmu
maukah kau kuberi pundi-pundi mimpiku?

kau boleh menghias ruang dengan perabotan sesukamu
kau boleh berbuat apa saja dalam sendirimu
kau boleh mengisi pundi itu dengan mimpi indahmu

asal kau tak bermuram durja, bagiku itu menyenangkan
asal suaramu tak lagi senyap, aku tak harus kau libatkan
asal kau bisa bermimpi lagi, bagiku itu membahagiakan

lupa

Gw lupa, benar2 lupa pernah menuliskan comment seperti ini di sana

yati on 20 April, 2007
jarak itu hanya ada di peta bumi, di atlas. kalo hati, ya ga berjarak
*garing dan ga nyambung ya?

Lalu yang punya blog mengingatkan semalam.
hmm, terlihat pinter dan bijak [huekss…] sayangnya gw sama sekali lupa pernah menulis kata- kata itu. Sampe sekarang gw masih terpesona. Dari mana ya datangnya pikiran itu sampe gw bisa menulisnya? Ga mungkin dalam keadaan mabuk karena gw ga pernah minum minuman keras. Dugaan gw, pasti hasil nyontek! Sayang sekali.

Apa ini berarti gw, si Perempuan Api, telah kehilangan bara? Ingatkan gw, my luv…

*diposting di tengah2 hiruk pikuk lagu Slamat Ultah buat kantor

diam, atau…?

hal-hal yang bikin sedih dan mendatangkan penyesalan itu…

– meminta maaf [ada atau tanpa kesalahan] dengan tulus sebagai penghargaan kepada yang lebih tua tapi dikira basa-basi
– dianggap salah karena tidak menginformasikan suatu hal padahal kita sendiri baru mengetahui informasi tersebut [sama-sama ga tau nih sebenernya]
– dianggap pengkhianat padahal dengan tulus kita menyayangi teman kita hanya saja tidak diungkapkan langsung padanya [soalnya bisa digosipin lesbong kalo kebetulan temen kita perempuan. atau dibilang naksir kalo dia laki]
– dikira ngincer posisi tertentu saat kita berargumen dengan atasan, padahal maksudnya hanya ingin menjelaskan dan meluruskan suatu hal agar tetap berada pada jalur [yang dianggap] benar [dan ini boleh dibantah selama ada bukti]
– dianggap setuju saat diam saja padahal kita diam karena sudah muak dengan keadaan. karena saat menjelaskan keyakinan kita, justru konsekuensinya adalah seperti empat poin di atas.

saat seperti ini, apakah DIAM memang pilihan yang tepat?