belajar

Saya punya temen, perempuan, menjalin hubungan dengan teman saya yang lain. Mereka beda agama. Awal2nya, temen perempuan sering ngobrolin soal perbedaan mereka itu dengan saya. Pandangan yang saya beri selalu saya dasarkan pada pengalaman pribadi. Saya ga pernah bilang langkahnya salah atau benar. Saya juga tak pernah bilang mendukung atau menolak. Saya memberinya pandangan, dan keputusan tetap sama dia. Tapi dengan alasan terlanjur cinta dan terlanjur sayang, persoalan memang tidak menjadi ringan untuk diselesaikan.

Saya dulu punya hubungan jarak jauh dan berbeda keyakinan. Tapi saya belum terjebak pada kondisi seperti kawan saya. Sehingga, meski tidak mudah, akhirnya saya bisa memutuskan hubungan dengan alasan, masa itu adalah masa buang-buang waktu. Sebab saya dan lelaki itu sama-sama tau bahwa kami tidak akan pernah bisa melangkah jauh. Kami akan bertahan pada keyakinan masing-masing meski kami berdua bukanlah golongan orang2 yang sangat religius. Ketakutan untuk dihukum gantung di ruang keluarga mungkin penyebab utama :p jelas bukan alasan religius.

Dua malam lalu, saya dan teman perempuan saya itu baru sempat ngobrol panjang lebar lagi. Ternyata keputusannya untuk menikah dengan lelaki itu sudah mantap. Terlihat gurat letih di wajahnya mengurusi administrasi pernihakan. Yang cukup mengusik saya adalah, betapa banyak teman-temannya yang menjauh karena keputusannya itu. Dia belajar banyak, bahwa lamanya pertemanan bukan jaminan sebuah ketulusan menerima kelebihan dan kekurangan kawan kita. Saya pun juga belajar banyak, bahwa satu keputusan bisa berjuta dampak.

Iklan

10 thoughts on “belajar

  1. MenoTimika berkata:

    Loe Telat Yat Kalo mreka mau nikah…. Gw dah duluan tau, malah itu yg sering gw bilang ke loe gosip heboh :))

    Yah mudah2an apa yg mreka inginkan terkabul…..

    kmudian loe nyusul… biar pertanyaan aneh itu nga menghantuimu 😀

  2. stey berkata:

    in the same relationship as ur friend mbak..tapi mengambil langkah seperti mbak Yati, tapi tetep berat..geezz..segala perbedaan..

  3. pretty berkata:

    temen saya banyak yang begitu, mungkin karena disini memang persentasenya 50 – 50 persen antara 2 agama … sebagian mengaku bahagia, sebagian lain nya mengaku rumahtangga mereka bener bener perlu perjuangan … semoga temenmu bahagia Yat …. cheers ….

  4. Mbah Sangkil berkata:

    kalo saya mungkin lebih ekstrem ya, agama adalah urusan pribadi masing-masing manusia dengan sang pencipta. Jadi pertemanan bagi saya bukankarena dia beragama apa, tapi bagaimana dia bisa menciptakan sebuah pertemanan tulus.

    Nikah beda agama atau seagama gak jaminan bakal langgeng juga. Udah banyak contohnya kan? so, kembali ke manusianya aja.

    *kemas-kemas mau pindah rumah*

  5. sarah berkata:

    wah kalo udah ngomongin agama, ampun deh…
    Cuma satu aja. Setiap keputusan yang telah di ambil, tanggunglah setiap konsekuensinya.

  6. Cabe Rawit berkata:

    Ane juga jadi belajar banyak… Perbedaan agama ane ama Sandra Dewi jadi kendala prinsip bagi ane buat ngelanjutin hubungan ke jenjang yang lebih serius… Ane juga kagak mau karena satu cinta, ane malah jadi kehilangan banyak cinta… :mrgreen:

  7. Robert Manurung berkata:

    Aku dulu pernah berkubang lama dalam kemanisan cinta yang ujung-ujungnya serba buntu itu. Sampai aku bilang pada perempuan yang amat kukasihi itu : emangnya ciuman bibirku terasa batak dan beraroma Kristen ?

    Biasanya, gadis Malang yang amat lembut dan perasa itu hanya tersenyum, namun matanya berkaca-kaca. Soalnya, yang menghambat kami adalah janjinya sendiri pada ayahnya ketika dia berusia 17, bahwa kelak dia harus menikah dengan pria muslim. Belakangan orang tuanya sudah melunak, tapi kekasihku tetap merasa bersalah dan takut kualat kalau melanggar janji…

    Cinta berbeda agama itu asyik kok, itulah kesimpulanku sampai sekarang, meskipun akhirnya kami berpisah. Dalam hubungan beda agamalah peluang terbaik untuk toleransi agama secara jujur dan tulus.

  8. dewi berkata:

    hari ini sama dihadapkan pada topik yang sama 3 kali, di chat ym, di postingan pepeng, dan disini. hm, de ja vu? masalah keyakinan memang riskan, apalagi kalau sampai pernikahan. karena menikah ternyata tidak hanya 2 individu, melainkan 2 keluarga * belagak pernah menikah* hihihi

  9. titiw berkata:

    Wah.. susye juga ya.. Tapi aku suka banget tuh kalimat situ yang terakhir.. cukup bergema di hati. Halah..

  10. […] Sebenernya ga ada niat beli buku hari ini. Gw ke mall hanya untuk nyari kado buat temen gw yang abis nikah. Tapi karena suntuk dan rasanya pengen muntah liat orang berjejal di mall seperti esok ga akan ada […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s