kanak-kanak

SAYA ingat Kamis kemarin, ketika menjenguk Kidung di rumah sakit. Ada selang oksigen di hidungnya. Tapi ia menolak berbaring. Ia duduk saja di tempat tidur sambil memandang iri pasien kanak-kanak lain yang sudah boleh berlari-larian di taman bermain depan kamar. Kidung tak bisa, karena tak mungkin menyeret2 tabung oksigen setinggi lebih dari satu meter itu. Juga ditambah dengan tiang tempat menggantung cairan infus.

Saya mengajaknya bercakap. Berpura2 mewawancarainya, seperti yang kata bunda-nya pernah dilakukan Kidung di play grup. Tapi lama-lama dia capek juga. “Kidung ga bisa banyak ngomong, takut ininya (selang oksigen) copot,” katanya dengan suara bindeng agar selang oksigen tetep nyantol di lubang hidungnya. Waks, dia memberiku pelajaran pertama :p. Lalu suster datang. Juga menanyainya tentang oksigen di hidungnya dan dua plester putih di kedua pipinya. Dan jawab Kidung, singkat! “Bosen”. Lalu ia meminta selang pengganggu itu dicopot.

Dengan jarum infus yang menancap di lengan kiri, Kidung akhirnya terbebas dari tempat tidur. Ia bergabung dengan pasien lain di tempat bermain. Anak-anak lain merubunginya. Seorang anak perempuan bernama Lisa membelainya dengan tangan kanan. Tangan kirinya memegang sebuah apel besar yang tinggal separuh. Seorang anak lelaki lain ikut memperhatikan Kidung. Lalu meminta apel dalam genggaman Lisa.

“Bagilah darah itu buatku,” katanya. Dan Lisa mengulurkan apel di genggamannya untuk digigit si anak lelaki. Saya terkekeh. “Darah?” Anak lelaki itu mengangguk. “Kami kan main hantu2an. Ini darahnya,” kata Lisa sambil mengulurkan lagi apelnya ke lelaki kecil di depannya. Anak itu menggeleng. “Cukup. Kurelakan darahku untuk kau hisap semuanya,” kata si anak lelaki sambil menepuk dadanya dengan telapak mungilnya.

Saya terbengong-bengong. Abis nonton sinetron gila apa anak2 ini hingga terekam kata-kata dahsyat barusan? Bosan bermain dengan Kidung, anak2 itu berlarian ke sana kemari. Lalu mencopot dinding pembatas seluncuran yang terbuat dari plastik. Mereka menggotongnya ramai2 keliling ruang bermain sambil mengucap “Laa ilaha illallah” berulang2. Saya merinding serem. Main apa sih mereka? Apa saya udah terlalu tua untuk tau jenis permainan anak2 sekarang? Saya tanya si lelaki kecil yang tadi merelakan ‘darahnya dihisap’ itu. “Main apa sih, mas?” Dia melihat ke arahku sebentar, “Kita kan lagi main mayat2an, tante!” Omigad! Sinetron itu rupanya.

Iklan

13 thoughts on “kanak-kanak

  1. mbahsangkil berkata:

    serem permainannya…

    ya itulah anak-anak, sebagian besar pelajaran hidupnya diambil dari apa yg ditayangkan di tv. Sayangnya tv kita sedikit acara yg mendidik, yg ada malahan sinetron dan infotainment yg keblinger. Peran orangtua penting banget skrg ini

  2. venus berkata:

    beuh. gw bilang juga apa. MATIKAN TIVI!!

  3. puput berkata:

    ya Allah gusti…ck ck ck..parah tuh pembuat sinetron

  4. sarah berkata:

    *liat komen mbok venus*
    Busset…. mbok venus galaks euy..
    Acara Tv memang banyak yg gag mendidik ya.

  5. yati berkata:

    @dian: ehm …juga
    xixixi…sorry lho, jeng, bukan sinetron yang itu….tapi yang ituuu… hahaha…

  6. merahitam berkata:

    hehehehehehe…
    Iya…Iya..aku cuma speechless aja. Gak tahu mesti ngomong apa. Mudah-mudahan, aku masih bisa bikin yang lebih bagus ya.

    *penuhharap*

  7. Hehehe, menarik nih. Nampaknya ada sutradara di tengah-tengah komentator.

    Kalau memang benar ada sutradara.. yaa saya hanya bisa mendoakan saja. Semoga karyanya jadi lebih ok dan bermanfaat buat bangsa.

    Halah, maap nih, komennya saya nggak mutu pisan. Abis ngomen, saya malahan jadi inget komen trademarknya dai kondang, yaitu, “Bagus, selama banyak manfaatnya, tidak dosa dan menjauhi zina”

    Hehehe

    (*Btw, dai nya terkenal lah pokonya. Dari bandung. Ganteng. Dan alhamdulillah, dipuja wanita. Hehe*)

    Hehehe.

  8. Anak-anak belajar dari apapun yang dilihatnya…
    Ayolah, selamatkan mereka dari kehancuran…
    Tampakkan yang sesuai dengan umur mereka sajalah……

  9. stey berkata:

    huh..males banget mbak nonton sinetron..

  10. […] Yati, menulis dengan amat bagus di blognya. Isinya mengenai keterkejutannya melihat pasien kanak-kanak di rumah sakit yang disinggahinya, […]

  11. funkshit berkata:

    itu sebenrnya (mungkin) merupakan wujuh kreatifitas anak2 setelah melihat sinchan main mayat2 an. tapi mereka menambah properti peti nya 😀

    yach.. lebih baik daripada mereka main smek down ato perkosa2 an

  12. maxbreaker berkata:

    waduh, tayangan sekarang memang cuma tontonan, ga da yang jadi tuntunan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s