pemburu pelangi

November berjalan pelan. Mungkin karena tanahnya becek terguyur hujan. Langkah angin tetap lebih cepat. Semalam ia tiba di sini. Membawa kabar darimu. Dalam surat yang basah karena terpaan kabut, kau menulis:

Angin tak dapat direngkuh. Cobalah suatu sore berdiri di atap, saat itu angin akan datang. Ia yang akan merengkuhmu. dekap. mesra.

Hei, pemburu pelangi senja hari; berdiri di atas atap, katamu? Itu ga bikin masuk angin? Kalau selendangku terbang ke awan, kau mau memburunya untukku? Hmmm….baiklah, akan kucoba suatu hari, berdiri di atas atap, kalau aku udah ga takut ketinggian lagi. Aku phobia ketinggian, sayang! 😦

Iklan

5 thoughts on “pemburu pelangi

  1. badai sapi berkata:

    kenapa harus phobia ?
    kan ada aku disisimu

  2. eh yang ini :
    Ia yang akan merengkuhmu. dekap. mesra.

    terdengar sama dengan :

    Apakah kau masih membelaiku selembut dahulu
    ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra,
    lebih dekat…

    *ambil sandal, pulang*

  3. venus berkata:

    lagi ngapain bawa2 selendang sih? kek ibu2 jaman dulu aja. perempuan yang aneh :p

  4. jejakkakiku berkata:

    hahahhaha…simbok…
    ketawa ajah deh 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s