obrolan

Menuntaskan janji pada orang lain jauh lebih mudah dibanding memenuhi janji pada diri sendiri. Rasanya hampir2 sama dengan cari muka. Apa bukan cari muka namanya kalo janji ma orang lain lebih ‘ditakuti untuk diingkari’ daripada janji pada diri sendiri. Upsss…mungkin saya aja kali yang kek gitu. Maka tadi saya bangun pagi2 banget. Melebihi pagi saat ada penugasan khusus.

Saya jalan2 ke pasar tradisional. Mencari nenek tua yang menggendong seikat besar daun pandan di punggungnya. Karena saya udah janji pada diri sendiri, akan memberi haknya saat memenangi lomba foto yang mengambil potret diri si nenek beberapa waktu lalu. Celakanya, setelah tiga empat kali bolak balik dalam pasar sempit dan bau itu, saya tidak menemukan sosok si nenek.

“Beli opo nduk?” tanya beberapa pedagang
“Mmmm…ga kok bu” kata saya
Melihat kerutan di dahi mereka atas jawaban saya, akhirnya saya menjelaskan tujuan saya. Mendeskripsikan wujud si nenek yang saya cari.

“Emang mau beli apa,” tanya beberapa orang
“Ga kok bu, saya cuma mau bayar utang” saya kehabisan alasan. Dan dahi mereka makin berkerut. Manis2 kok ngutang, tega amat sama nenek2! Cepet2 saya tinggalkan mereka. Beberapa obrolan pasar sempat mampir ke telinga saya.

“Pasar Kebun Sayur masuk tipi lagi lho, yang jualan manik-manik,” kata pedagang 1
“Kenapa? Dibakar lagi?” pedagang 2 menimpali dengan sinis. Saya kaget. Ah, begitu rupanya. Sama anehnya seperti yang saya rasakan. Pasar berkali-kali terbakar hebat, lalu mereka punya alasan mengusir pedagang, dan tak lama, mal dan pusat pertokoan berdiri megah di sana.

Saya keluar dari pasar dengan keringat bercucuran dan kepala sedikit pening. Padahal pagi2 tadi udah mandi. Banyak pedagang kaki lima di pinggir jalan karena tak mendapat tempat di dalam pasar. Jualan mereka, bunga tabur. Hmm, berarti pelanggan si nenek penggendong pandan. Coba nanya ke beberapa penjual. Beberapa sepertinya kenal. Tapi jawabannya mengecewakan 😦

“Sepertinya udah pulang tadi, nak. Emangnya ada apa?” katanya balik bertanya. Saya ulangi lagi alasan yang tadi. Dan lagi, keningnya berkerut, lalu cepat2 mengangkuti jualan mereka yang semula ditebar di trotoar jalan.

“Cepat…cepat, perampoknya datang,” kata seorang nenek2 kepada temannya yang lain.
Sedikit kaget, kok ada rampok di tengah pasar? Oh, yang datang ternyata aparat kelurahan dan centeng2nya, Satpol PP. Hahaha…saya tergelak. Lalu membantu memunguti beberapa kuntum bunga jualan mereka yang tercecer.

Iklan