Wajah Pasaran

Sejak dulu, saya memiliki banyak kembaran. Saya diingatkan lagi ketika libur Kamis lalu, saya mengunjungi desa eks tapol PKI di Desa Argosari, Kutai Kertanegara. Pemilik rumah yang saya singgahi selalu mengomentari wajah saya. Dengan mata rabunnya, orang-orang buangan di desa itu, yang saya panggil dengan sebutan simbah atau mbah putri, awalnya menatap saya berlama-lama. Lalu kalimat itupun tercetus dari mulut mereka.

“Lho, kok mbak ini mirip Mbak Anu dari eLSAM” atau,
“Tadi ta pikir malah mbak yang dari Komnas HAM” atau,
“Mbak ini mirip banget sama Mbak Anu yang di toko buku dan penerbit buku2 kiri”

Haduh…Mbaaaahhh…saya ini Yati. Baru sekali ini berkunjung ke sini, kata saya berusaha meyakinkan. Mereka pun mengangguk-angguk. Lalu senyum lebar tersungging, memperlihatkan gigi mereka yang tak utuh lagi, serta mata yang tinggal segaris, nyaris terpejam. Hmm…membayangkan itu, saya jadi kangen dan ingin kembali ke sana, memeluk mereka erat2.

Saya juga teringat beberapa tahun lalu, saat menghadiri sebuah pertemuan mahasiswa (padahal ketika itu saya bukan mahasiswa lagi :p) di Cirebon. Salah seorang teman saya, anak Jakarta yang selama ini cukup akrab, cuma menatap saya dan tersenyum sedikit hormat. Kesambet apa anak ini, pikir saya. Padahal biasanya kami dengan bebasnya cela2an atau berdebat soal apapun.

Hari berikutnya, setelah bosan disenyumi bodoh seperti itu, saya pun langsung ‘marah2’. “Pa2an sih lo? Gagu ya? Senyum2 mulu dari kemaren!” Dan dia pun membuat pengakuan basi. “Sumpah Yat, gw pikir lo anak Walhi yang sering kita ajakin diskusi di kampus”. Ampuuun, sinting! Mungkin otaknya memang sedang ga beres. Saat itu dia baru beberapa hari keluar dari penjara dengan lima jahitan di kepala bekas pentungan polisi. Jalannya aja masih miring2. Ah, sedih mengingat kawan satu itu.

Ya, saya berpikir sama dengan ledekan teman-teman seperjalanan ke kampung buangan tapol kemaren. Mungkin wajah saya memang pasaran, banyak miripnya. Tadi siang, ketika bercerita tentang tulisan dan foto saya pada teman ini, dia pun langsung berkomentar. “Lu mirip banget sama sohib gw pas kuliah di Jogja. Sumpaaaaah, mirip banget”. Halah! Kembaran again.

Tapi masih lebih baiklah, dibanding tuduhan kawan saya yang anak koran itu, katanya saya mirip Elza Syarief, pembela Tommy Soeharto. Huaaaa…ga mauuuuu…. šŸ˜¦

2 thoughts on “Wajah Pasaran

  1. babunegara mengatakan:

    kekekeke dulu pas masih aktip di seksi nagihin tunggakan upeti negara, pas nengok tetangga sakit kok beliau malah lari… setengah jam kemudian ketahuan kalo dia lari lantaran nyangka saya ini debt kolektor dari bank.

    seminggu kemudian saya datang lagi dan tetangga itu menyambut baik dan ngobrol ngalor ngidul lalu beliau nanya: “adik ada keperluan apa datang kemari?”

    “anu…. saya nganter STP (surat tagihan pajak)”

    orang itu langsung sakit lagi!!!! wakakakakakak

  2. venus mengatakan:

    ah, gak mirip elza syarief kok. cakepan dia jauuuuhhhh wakakaka…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s