Sendang Bening Bersenandung

Hampir tiga minggu setelah kepergian Tarub kini. Nawangwulan tak pernah melewatkan hari-harinya tanpa menatap Sendang Bening yang tak pernah kering. Jika dulu tatapannya ke Sendang Bening penuh rindu, kini mata indahnya menatap penuh harap. Berharap lelaki itu tiba2 ada disana, mandi dan menggosok tubuhnya. Tentu saja Nawangwulan tak akan iseng lagi menyembunyikan pakaiannya tapi justru menyediakan handuk dan pakaian bagi lelakinya itu.

Tapi kini hampir sebulan kepergiannya. Tak ada kabar yang datang. Mungkin di gurun nan gersang sana tak ada yang jualan pulsa. Tak mungkin tak ada sinyal karena tak ada pepohonan yang menghambat, tak ada pegunungan yang mementahkan. “Ada apa denganmu wahai kekasihku?” Nawangwulan membatin. Tarub tak pernah tahu, godaan datang tiada henti menghampiri Nawangwulan.

Senja itu, seperti biasa, Nawang duduk di tepi sendang yang tak pernah kering, menatap beningnya air yang memantulkan kilau matahari yang sebentar lagi disembunyikan malam. Tapi kesenyapan Sendang terganggu derum gerobak bermesin yang diarak orang sekampung. “Duuuh, pasti juragan bandot itu datang lagi. Wahai Dewi Cinta, kuatkan hatiku mananti Tarub,” pinta Nawangwulan dalam hati.

Tak lama, orang2 kampung mengusung berbagai macam buah2an, pakaian dan perhiasan, kiriman sang juragan bandot buat Nawang. Tak ada sukacita pada wajah sendunya menerima pemberian itu. Sebelum dimasukkan ke rumah dan sebagian dibagikan kepada tetangganya, Nawangwulan pun meminta mereka melangkahi pemberian2 itu. Konon setelah dilangkahi, pengaruh telung akan hilang.

Tak cuma godaan juragan bandot yang dihadapi Nawang. Konon kepala pasukan yang sedang bertempur di wilayah kerajaan tetangga, tiada henti memujanya. Pesan2 penuh rayuan gombal diterima Nawang saban hari melalui kurir khusus. Belum lagi gosip2 yang selalu datang terbawa angin nakal, mengabarkan Tarub telah memiliki perempuan lain di gurun nan gersang sana.

Saat2 seperti itu, kadang membuat Nawang berpikir untuk menggunakan sisa-sisa kekuatannya, menorehkan pelangi sebagai jalannya kembali ke langit. Ya, Nawangwulan sang Penoreh Pelangi, gelar yang didapatnya dari para dewa. Tapi kekuatan cinta dan kerinduan pada Tarub selalu mampu membuatnya bertahan dan menunggu, menatap penuh harap pada Sendang Bening yang tak pernah kering.

Esoknya, sesaat sebelum matahari berbagi kehangatan, Nawangwulan telah kembali duduk menatapi Sedang Bening yang tak pernah kering. Kali ini wajahnya berbalut senyum bahagia. Rupanya semalam, Tarub hadir dalam tidurnya, setelah sebelumnya dia memperdengarkan suara lembutnya ke telinga Nawang. Semuanya seperti mimpi, tapi mimpi itu menghadirkan senyum di wajahnya. “Hmm…power of love,” Nawang bergumam.
Hue…? Kok Nawang pake bahasa planet?

cerita yang dibuat dengan sangat Ge-eR ini, melanjutkan dongengan kk besar! beda kisah, boleh dong? Di sini versi bersenandung, di sana versi ndobos, xixixi…

Iklan

4 thoughts on “Sendang Bening Bersenandung

  1. Mbilung berkata:

    gak ada sinyal ya di sendang bening? atau tarub lagi kehabisan pulsa? 😀

  2. venus berkata:

    yeee…ketularang nggedabrus. diajarin apa sama pakde seminggu ini? kacaw nih. dongeng indah tapi kacaw 😀

  3. gaussac berkata:

    di sini lebih enak ceritanya nih, di sana mah puzzzing banget 😀

  4. den baguse berkata:

    disini ceritanya mudah dicerna, tapi kurang mendongeng kaya sir mbilung…
    abis ini apa? keong mas?
    wakakakakak
    😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s