Mancing di sarang buaya

Tak banyak yang bisa saya ceritakan tentang perjalanan akhir pekan kali ini. Mungkin dipengaruhi kondisi kurang fit karena serbuan seribu jarum di perut bagian bawah, yang frekuensinya bertambah menjelang haid. Juga petir yang menggila menjelang subuh, jadi kupikir hari takkan cerah. Alasan lain, saya lagi males nulis, males ngeblog, males bercerita, males segalanya. Hah…payah banget ya? Obatnya apa ya?

Minggu pagi tadi, kami sembilan orang temen kantor, mancing di muara yang pekan lalu kami telusuri dari atas pipa. Ya, mancing ikan di ‘sarang’ buaya. Untungnya, ga kek minggu lalu, hari ini kami ga ketemu satu buaya pun. Yang ada cuma ikan2 yang berenang bebas di sela pokok-pokok bakau yang enggan memakan umpan yang kami lemparkan. Padahal umpan kami lumayan lezat, udang-udang yang tidak terlalu kecil.

Karena pengaruh kondisi fisik, saya memang agak kurang bersemangat. Buktinya, tampang saya ga banyak mengisi kamera2 yang kami bawa. Saya hanya ingin memindahkan ruang makan di rumah ke rerimbunan daun mangrove di tepi muara. Hmm…enak, padahal cuma mie :p. Pancing saya letakkan di samping, makan dengan males2an, sambil baca buku. Males2an pula saya ngecek pancing yang pas ditarik kok rasanya berat.

Pikir saya, paling2 nyangkut lagi. Cuekin lagi, saya memilih melanjutkan bacaan. Lama2 coba lagi, tarik aja ah. Ternyata di ujung mata kail menggelepar seekor ikan Kerapu. Duh…maaf ikan, saya cuma mancing, ga akan kumakan kau. Seperti kata temenku, saya ini Bugis murtad, ga suka ikan. Lalu urusan melepas ikan dari mata kail jadi urusan teman sepemancingan.

Ternyata, itu ikan terbesar yang berhasil kami pancing hari ini. Saya lantas digelari si anak nelayan yang beruntung. Kata2 ini sudah pernah saya dengarkan juga dari para alumni IPB yang suatu waktu mengajakku memancing. Ketika itu, setiap melempar pancing, saya selalu berhasil mendapatkan ikan seukuran telapak tangan. Mereka pun berkomentar, “Wah, beruntung sekali. Ada ilmunya kali ya? Jangan2 pasang nomer juga bisa nih?”. Hah??? Kok gitu mikirnya. Padahal, dapet ikan saat mancing, bukan soal keberuntungan menurut saya. Tapi mau nggaknya si ikan makan umpan yang dikasih. Lha, kalo gitu saya pawang ikan?

2 thoughts on “Mancing di sarang buaya

  1. bazzbeto mengatakan:

    lumayan, ga dapet omelan di beregerak, tapi masih dapet sedikit cerita di sini…:D

  2. kana mengatakan:

    kalo di jepang ikan tu jadi makanan favorit.. lagian kan banyak vitaminnya… šŸ˜€

    *btw, sayah juga lagi kepengen hiatus.. tapi blog baru nasibnya gimana kalo sayah hiatus.. :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s