Menyusuri Balikpapan di Atas Pipa Tua

Pekerja macam kami, tak biasa bangun pagi. Karena malamnya, pekerjaan baru rampung pukul 01.00, kadang2 masih ditambah acara nongkrong2. Tapi seperti 4 hari Minggu terakhir ini, kami membiasakan bangun pagi. Selalu ada yang menarik dan menantang untuk disusuri. Jika sebelumnya kami kemping di Pantai Lamaru, juga menyusuri hutan atau pinggiran kampung mengingat kembali tempat2 bermain masa kecil anak-anak Balikpapan tempo dulu, Minggu (3/12) ini cukup berbeda.

Kami menyusuri Kota Minyak dengan meniti pipa-pipa tua peninggalan Belanda yang salah satunya bercap tahun 1975. Awalnya kami mengira pipa ini adalah pipa yang mengalirkan minyak mentah ke unit pengolahan Pertamina. Ternyata, setelah menemukan banyak kebocoran (disengaja) untuk disambung ke rumah milik entah siapa, pipa itu berisi air. Pipa ini berpangkal di waduk tepi Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW), kilometer 15 Jl Soekarno-Hatta. Sumber air yang tidak pernah kering berkat terjaganya kelestarian HLSW ini, dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan kilang2 Pertamina yang akan memasok BBM untuk kawasan timur Indonesia.

Perjalanan dimulai dari Somber, pelabuhan Ferry lama yang kini dipindahkan ke kawasan Kariangau. Benar-benar menantang karena kami harus berjalan di atas tiga pipa besi berdiameter 50 cm yang tidak saling melekat satu sama lain. Otomatis kami harus memilih satu pipa sebagai jalan setapak. Tentu saja harus berhati2, menjaga keseimbangan tubuh agar tidak terjatuh. Daerah yang kami lalui adalah muara sungai, dan kami sempat bertemu anak buaya. Perjalanan yang tidak gampang menurut kami tapi tentu berbeda dibandingkan penduduk di sana yang menjadikannya sebagai jalan kampung.

Terik matahari tidak membuat kami kepanasan sebab rindangnya hutan bakau membuat jalan tetap teduh. Sepanjang jalan, nyanyian burung Murai Batu dan burung kipas sangat menghibur. Ada pula suara bekantan-bekantan yang dengan cepat menyelinap di antara rimbunnya hutan bakau sebelum dipotret. Sayang kami tidak datang lebih pagi sehingga tidak bisa menyaksikan bekantan-bekantan ini bergelantungan di pohon yang lebih dekat dengan ‘setapak’.

Sekitar 20 menit perjalanan, setelah melewati Sungai Somber dan satu sungai kecil, kami berhenti sejenak. Ikan-ikan yang berloncat-loncatan di bawah pipa titian, sangat menarik untuk dipancing. Peralatan memancing pun dikeluarkan, sementara yang membawa kamera, sibuk mengambil gambar2 menarik. Sebagai umpannya, kami menggunakan hewan kecil khas hutan bakau, timpakul. Timpakul dalam bahasa Melayu dikenal dengan nama Belacak, dalam bahasa Indonesia disebut belodog, dan bahasa Inggris disebut mudskipper. Tak berapa lama, perjalanan dilanjutkan dan pancing tadi diikatkan di pohon dengan harapan, saat pulang kami bisa mengambilnya lagi, lengkap dengan ikan.

Perjalanan selanjutnya mulai berat. Setelah melewati muara dan rawa-rawa, posisi pipa mulai tegak, menanjak. Setiap melewati dua bukit, kami beristrahat lagi. Meski membawa peralatan memasak, kami tidak membuat tungku sebab di depan kami mulai terlihat perkampungan. Setelah melewati satu kompleks perumahan sederhana, sembulan tiga pipa air sejajar ini terpotong di ujung aspal. Kami ternyata telah sampai di jalan menuju Pelabuhan Kariangau setelah meniti pipa sepanjang kurang lebih lima kilometer.

Setelah istrahat di warung dan bertanya2 ke masyarakat setempat, kami, delapan anggota perjalanan kali ini sepakat tidak menyusuri pipa tadi. Biarlah pancing yang tadi tetap di sana atau dimanfaatkan orang lain. Kami memutuskan meneruskan perjalanan ke Pelabuhan Kariangau untuk menyeberang ke Kampung Baru melewati jembatan panjang. Jembatan yang terbuat dari kayu ulin ini, benar-benar pantas dinamai jembatan panjang karena panjangnya sekitar 700 meter. Di ujung jembatan telah menunggu perahu penyeberangan yang memungut biaya Rp 2.500 per orang untuk waktu tempuh tidak sampai lima menit. Dari Kampung Baru Ujung, kami pulang ke kantor, tempat kami berkumpul tadi pagi.

*hiks…kisah petualangan akhir pekan kali ini dibikin agak serius dalam bahasa Indonesia yang lebih beradab :p

11 thoughts on “Menyusuri Balikpapan di Atas Pipa Tua

  1. bazzbeto mengatakan:

    wah, menarik!!
    gw belum pernah melakukan “petualangan” seperti itu…
    gw kirain akhirnya menemukan pabrik narkoba atau apalah, seperti cerita lima sekawan..:D

  2. tito mengatakan:

    Loh…asik!! ini nggak diposting di bergerak aja, mbak?

  3. tito mengatakan:

    orang ini kok lama nggak ngeblog…jangan-jangan lagi bikin bergerak karena diam tak enak

  4. Chris mengatakan:

    top bgt.. waktu saya kecil juga suka main di sungai wain yg jarak tempuh dari rumah saya (waktu itu saya msh di gn pipa) sekitar setengah jam. kangen juga dgn suasana kampung halaman…

  5. Chris mengatakan:

    balikpapan is the best.. kangen juga dgn kampung halaman! waktu saya kecil dan masih tinggal di gn pipa saya juga suka main di sungai wain.. salam!

  6. rio mengatakan:

    wes,whebat kalian brani menyisiri hutan balikpapan.saya aja orang aslix ga brani karena kawasan anda yang lalui terkenal dengan angkerx.

  7. mbak fiet samarinda mengatakan:

    wah..sayang.. mestinya perjalanan diterusin, sampe bener- bener ke sungai wain…saya bisa merasakan betapa gamangnya ketika jejak kaki anda menapaki pipa diatas sungai somber.gamang.. karena dibawah adalah air.. kalau kecemplung… hii.. seru, serem.. tapi asik…saya dan teman – teman pernah ksna juga… pulangnya…kami bawa seikat padi yang baru di petik. Ternyata, tanpa sebab apa apa, sesampai di rumah teman say yang membawa padi tadi, kesurupan…….terpaksa kami balik lagi.. mengembalikan padinya… padahal tidak nyuri lho….itu kejadian tahun 80 an. hehehe.salam ya…

  8. […] ini pernah dimuat di sini dan di koran Harian Tribun Kaltim (www.tribunkaltim.com), pada awal Desember 2006 yang ditulis oleh […]

  9. eko mengatakan:

    wah, menarik. sy dulu jg pernah tinggal di balikpapan; di daerah prapatan, gn. dubbs, gang dolok, dsb (wah, pindah2 mulu he-he-he). dulu sy jg sempat iseng, jalan2 menyusuri pantai, sebelum bandara-trus jalan di pantai belakang bandarai, sampai ke pantai manggar. pernah jg dari pantai di belakang kantor saya, thiess, sampai ke lamaru. wah, asyik jg ya 😀

    *sstt…, maklum, wkt itu lg pusing he-he-he*

  10. Fisa mengatakan:

    balikpapan GTL, selain menghasilkan SDM dan SDA yang baik,, juga penuh petualangan yang mengharu biru serta keanekaragaman hayati yang sebelumnya belum penah ditemukan di kota-kota lain… bangga deh jadi warga asli kalimantan!! KAYU ^kalimantan For U

  11. lajangbahagia mengatakan:

    senandung,,,,,,jauhnyami perjalannmu di’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s