Berkebun

Tadi pagi hujan lagi. Lumayan deres. Kukabari padanya. Lalu melanjutkan tidur dan mimpi yang tertunda. Hmm…damainya hidup. Usai hujan mengguyur bumi, langit mulai terang. Berjalan2 ke halaman belakang. Sejuknya rerumputan menembus kulit kaki.

Hei…di kebun belakang sana, dibatasi pagar tembok bercat putih, seorang lelaki sibuk terbungkuk2 menyiangi kebun jagungnya. Bukan mengenakan caping seperti petani umumnya. Tapi helm proyek. Hmm…apa di Kalimantan, kebun sama dengan lokasi tambang? Mungkin, hehehe…garing :p

Bukan helm itu yang menarik, tapi pondoknya. Gw pengen banget minta ijin maen ke pondok kebunnya sambil…mmm, bakar jagung. Menikmatinya sambil duduk di bale2 pondok, mengeringkan kaki yang terbungkus lumpur, juga menghangatkan badan dekat perapian setelah maen hujan. Kalo malem? Ya sambil liat bintang… :d

Eh, temen satu rumah gw mo ikutan. Tapi sama aja, ga berani ijin ke yang punya kebun. Yawdah, selamat menghayal aja :p. Lalu hujan turun lagi. Sesaat. Mungkin langit cuma numpahin sisa2 hujan sebelumnya. Gw diem di balik jendela. Menatap hujan. Lagi2 inget dia.

Langit terang, sore tiba. Males ke kantor buat meeting sore (semoga orang kantor ga baca). Rumput2 liar di sela2 rumput halus halaman depan dan belakang rumah lebih menarik untuk dicabuti. Sambil mencabuti rumput liar, gw janji dalam hati mo mulai berkebun lagi besok. Duh, emang ga bakat buat ke dapur. Heh, perempuan macem apa ini? Mungkin juga gw iri ma pak tani tadi.
Ma kasih bapak tani atas rejekimu hari ini, hingga saya bisa makan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s