Saya nyaris lupa. 18 April kemaren, sahabat saya menikah. Jauh sebelumnya, mereka berdua, pasangan yang dulu bersahabat dan kini menjadi suami istri itu meminta kado dari saya. Kado pernikahan berupa puisi. Bukan hal mudah karena saya bukan pembuat puisi. Tapi akhirnya tercipta juga sebuah tulisan buat mereka. Untaian kata yang diselipkan dalam undangan pernikahan mereka. Semoga langgeng ya
Kado Pernikahan
Sahabat, semesta ini cermin pernikahan abadi…
Kau lihat mentari yang terus bersinar itu
Ia pemurah
Berbagi cahaya yang membebaskan dari gelap, tanpa pernah berhitung
Kau lihat samudera maha luas itu
Ia pemaaf
Menerima segala limpahan yang penuh cemar maupun yang bening
Kau lihat bumi yang kita pijak itu
Ia penyabar
Menerima maki, cerca, dan pijak segala mahluk dalam diam
Kau rasakan angin yang tak henti bertiup itu
Ia memberi arah
Mengajarkan untuk mengikuti sang imam agar tak tersesat
Kau lihat air yang terus mengalir itu
Ia setia,
Seperti cinta kasih dan kesetiaan Bilqis pada Sulaiman
terharu *usap airmata*
nanti bolehkah saya meminta kado puisi pernikahan? nanti … entah kapan
*setuju sama kucingusil*
hahaha… XD
ya udah, kalo bikin puisi itu susah, aku minta hadiahi aipun aja, gimana?
*dicekek*
kalo cinta laron pada cahaya yang membuatnya hangus terbakar, itu masuk kategori definisi pernikahan ndak mbak yat??
salut…!!!
terharu bacanya…. aw..aw..aw.. aku juga mbok dibikinken….
@ipied: jadi tau kan gosip mo kawin yang disebarin pawang
Puisinya keren. Ah, harusnya dulu pas mau nikah, aku minta kado puisi juga darimu ya.
*terharu*
makasih banyak, puisinya…aco…;)
note: akhirnya berhenti juga aku melaut…;D
huhuhu.. keren puisinya,, jadi mau..
^^
indah… buat setiap orang senyum waktu bacanya.
[...] puisi kado pernikahan itu, akhirnya ngambil puisi lama yang sebenernya pernah saya hadiahkan buat pernikahan sahabat saya. Gak papa lah, saya menghadiahi diri sendiri dengan puisi sendiri [...]