Oleh: senandung | 14 November 2009

pohon – #7

seraphineKamis malam lalu saya nonton film terakhir dalam rangkaian festival film Eropa atau Europe on Screen yang ditayangkan di Erasmus Huis. Kali itu, judulnya Seraphine.

Film ini diangkat dari kisah nyata seorang pelukis bernama Seraphine Louis yang diperankan dengan sangat apik oleh Yolande Moreau. Wajar jika ia akhirnya meraih predikat aktris terbaik dalam ajang penghargaan film Cesar Award –setara dengan piala Oscar di Hollywood– yang ke-34 pada Februari lalu. “Pemeran yang semalem lebih lucu dibanding pelukis aslinya.” Begitu komentar kami ketika dia memperlihatkan foto asli Seraphine Louis pada saya semalam.

Jadi, Seraphine diceritakan berperan sebagai pembersih rumah di apartemen yang disewa Wilhelm Uhde, kolektor seni terkenal dari Jerman. Seraphine yang hidup dalam kemiskinan di flat sempit hanyalah perempuan yang jadi bahan olok2an orang. Tapi ia tak peduli dan hidup dalam kesibukannya sendiri, mencampur berbagai bahan alami antara lain darah babi, lilin cair curian dari gereja, daun dan bunga, kunyit, untuk dijadikan cat.

louisIa meramu cat dan melukis di atas potongan papan sambil menyanyi lagu gereja hingga pagi menjelang di flat yang tak pernah mampu ia lunasi sewanya.

Suatu malam saat Uhde menghadiri pesta rahasia pemilik apartemen, ia melihat karya Seraphine dan langsung membeli semua karyanya. Namun kegembiraan Seraphine terpotong perang dunia pertama ketika kolektor lukisannya meninggalkan Prancis dan kembali ke negerinya. Tapi perang sekaligus membuatnya sedikit untung karena bisa nyolong cat dan kain untuk media lukis dari toko yang ditinggal pemiliknya.

Ia pun terus melatih kemampuannya melukis setiap malam hingga perang usai. Uang upah mencuci ia gunakan membeli cat, dan ia makan dari pemberian orang, sekali sehari. Tapi ia mengalami kemajuan pesat dalam mengeksplorasi bakat lukisnya. Kerja keras itu tak sia-sia ketika Uhde menemukannya kembali. Seraphine akhirnya bisa hidup layak yang bukan dalam mimpi.

Catatan yang saya dapat dari film yang mendapat tujuh piala Cesar ini adalah, jangan pernah kehilangan semangat meski perut melilit. Halah :p
Bener, ini cocok buat saya yang udah mulai mengendor, ga mood dan kehabisan ide merajut mimpi dengan ikut NaNoWriMo.

Mungkin karena itu, di komentar ini, dia bilang: Kalo kamu down, ingat Seraphine aja.

Ouh, ga semudah itu sayangku. Kalo Seraphine merasa down, suntuk, bahkan depresi dan gila di akhir hidupnya, dia bisa sembuh dengan hanya melihat alam hijau dan memeluk pohon. Mungkin saya juga bisa dengan cara itu tapi masalahnya dimana saya bisa menikmati pemandangan yang sama?
Atau…bisa aja sih sebenernya, asal kamu mau menggantikan pohon itu untuk kupeluk. Uhuk…uhuk..


Tanggapan

  1. Jadi inget tokoh dalam buku Knut Hamsun. Lapar tak menyurutkan tekadnya untuk terus menulis dan menjadikan menulis sebagai profesinya.

    semangat bu, tinggal 3 minggu lagi.

    *joget pisang supaya makin semangat*

  2. malah ingat cerita si gadis penjual korek api yang bertahan melawan malam musim dingin dengan menyalakan angan”nya
    tapi akhirnya si gadis kalah melawan ganas musim dingin.
    reviewnya bagus *ikutan joget pisang* ;)

  3. eh paragraf terakhir itu apa itu? ahahahahahaha

    *ngakak ngejengkang* hahahahaha.. gombalita! :D

    review yang bagus,… ah sial kamu berhasil ntn film penutup! seandainya Erasmus Huis deket kantor ku… (cry)

  4. @merahitam: tiga minggu LAGI??? hihi… :p ma kasih, ma kasih

    @linda: gadis penjual korek :( apa harus ditambah dengan: “keberuntungan” ?
    ga pengen GR, review-ku atau filmnya yg bagus? :p

    @Ipied: hushhh….merhatiin aja :p bukan gombal iniiii :) )
    ini bukan closingnya kok. closingnya justru di GH Jumat kemaren, wisky mit vodka

  5. tes

  6. dipeluk ?
    wah, saya bukan kerbau sapinya saijah yang bisa melawan harimau beruang


Beri tanggapan

Your response:

Kategori