sengaja

belakangan aku hapal sederet kata. ya. sibuk. nanti ya. banget. taro dulu telponnya ya. pulang dulu ya. dan kata yang paling sering adalah, ya dan sibuk. aku ngerti, banget. paham sepenuhnya. tapi saat di rumah dan sedikit lowong, haruskah begitu juga? lalu aku ngambek. kau pun sudah hapal soal itu.

walau sejujurnya…
kadang aku sembunyi, karena ingin kamu temukan
Menjauh karena ingin kamu ikuti
Menangis karena ingin kamu tenangkan
Menjatuhkan diri, karena ingin kamu tangkap *)

*udah ngomong sebelum ngutip, ga tau dapet izin ato ngga*

cedera [lagi]

Beberapa teman semalam nanya, “Kamu ikut futsal? Atau jalan sehat?” setelah melihat gw berjalan pincang dan menyeret kaki kiri. Gw cuma ngangguk karena males ngejelasin kalo gw abis jatuh di tangga kantor menuju ruangan lantai dua kemaren sore setelah pulang makan siang.

Pasti pertanyaan akan nyusul, “Kok bisa?” ya bisalah, keknya gw ngelamun jorok sambil jalan, pusing, atau entah, gw ga inget pasti. Tau2 gw jatuh berlutut. Rasanya gimana, ga usah ditanya, lutut gw ngiluuuu! Abis itu gw coba berdiri, ternyata lutut gw blom kuat, gw jatuh terduduk lagi. Berdarah sih, nggak, tapi lumayan bengkak abis itu. Dan rasa ngilunya ga ilang2 sampe badan gw agak demam semalem.

Apes bener, yang kena lutut yang kiri lagi. Padahal sejak kecelakaan dua hari, berturut2, dua tahun lalu itu, lutut kiri gw sampe skarang belum bener2 sembuh. Selalu ngilu saat ditekuk lama-lama, atau abis jalan jauh, atau abis naik tangga. Pake jatuh pula! Duh! Tiap ngilunya kumat, rasanya pengen nangis tapi air mata ga bisa kluar. huhuhuhu….atiiittt [hush, manja!]

Akhirnya ada alasan juga untuk ga menolak ke dokter. Tapi sama kayak dua tahun lalu pas difoto tengkorak lututnya [apa sih istilahnya] katanya gak apa2. Kirain udah retak, makanya gw takut periksa. Dan sekali lagi gw harus pake perban coklat pengikat lutut biar ‘engsel’nya ga goyang. Huhuhu…makin deh pertanyaan temen2, mo main futsal ya?

Abis lebaran kemaren emang ada temen seprofesi dari kantor lain ngajakin latihan futsal. Katanya buat persiapan tanding. Malu kalo kalah lagi ma karyawan2 hotel yang modis2 itu. Tapi gw ga pernah berminat. Gw inget taon kapan, abis tanding futsal hari Kartini temen gw langsung opname di RS karena tumbang kena vertigo. Gw udah males berurusan ma rumah sakit. Cukup sudah!

nyaris

dan bahkan…
untuk sekali seminggu pun kita nyaris tak punya
harus kutumpahkan kemana rindu ini?

*upsss…terlanjur posting, padahal lima menit berikutnya telponku berdering. biarin aja ya, buat pengingat*

ditandain

sebenernya saya udah lebih tenang kemarin sehingga saya ga jadi menulis tentang saya diantara 11 wajah yang sudah ditandain, tentang 11 karakter suara yang udah dihapalin, tentang 11 batang kepala yang udah dipatok nasibnya hanya sampai di titik ini.

saya udah bersikap pasrah dan bermasa bodoh, serta tidak akan peduli pada gejolak di sekeliling saya yang sedikit banyak merugikan saya. menguras pikiran, emosi dan energi saya. sudahlah. biarkan saja semuanya begitu. saya pun kemarin memutuskan untuk tidak berkata: biar Tuhan yang balas. karena kalimat itu sepertinya tidak begitu bijak. memanfaatkan kekuatan Tuhan untuk membalaskan rasa sakit saya, itu tindakan yang kurang ajar.

tapi hari ini rasanya sesek banget. saat mendengar pekerjaan memuakkan itu lagi2 akan dilimpahkan ke saya karena pemiliknya akan bersantai sejenak. tidak cukupkah dua minggu ini saya kelimpungan ditinggali tumpukan pekerjaan yang sama yang terpaksa diterima karena kondisinya udah ancur? inget yang sebelum puasa juga, tiba2 ditinggal. rasanya mereka menjadikan saya tempat menimbun pekerjaan tak selesai, dan pada saat bersamaan mematok saya untuk tidak bergerak dari tempat ini.

entah, angin apa yang membawaku tadi. bangun lebih pagi daripada hari2 kerja. saya bergegas ke dua bank, memindahkan deposito masing-masing ke bank rekanannya menjadi tabungan biasa. [gaya ya, padahal isinya keciiiilll]. seperti akan pindah kota besok pagi aja rasanya.
tadinya juga saya mau pindah kamar kost. tapi selalu ada pikiran, ah, ntar lagi juga tempat ini ditinggal. dan hingga sore datang, saya tak kunjung pindah kamar.

sejak agustus lalu saya memang mematok waktu hingga November saja. menyelesaikan utang kerjaan hasil beasiswa itu. juga lomba tulisan yang menang kemarin. dan sekarang, udah tanggal 23. tujuh hari lagi november. batas akhirku. besok saya akan menghadap, menagih janji tiga bulan lalu. apapun jawaban janji itu, mungkin memang ini batas akhirku.
ini sangat-sangat serius! ada yang mau menampung saya?

sindrom

mengapa begitu sulit mengendalikan emosi? apa sulitnya bersikap manis? toh kamu udah tau akibatnya setelah mengumbar emosi. dapet capek doang kan? dan saat bersikap manis, siapa yang dirugikan? ga ada kan? yang ada hanya rasa damai di hati.
perlu terapi?
atau…. ouh, PMS!!! seharusnya emang udah waktunya nih, tapi kok belum nongol ya?
tapi apa iya sindrom itu ga bisa diilangin? kalau nggak, bisa ga sih orang lain mengerti kenapa perempuan kadang bersikap seperti ini?
laki-laki itu punya masa PMS juga ga ya?

taukah?

derai hujan baru saja berakhir subuh tadi ketika saya terbangun. lalu tiba-tiba perasaan itu menyelinap. merindumu. penuh. lalu berganti perih. karena hanya ada bayangan dan sapa tak berjawab.

taukah tuan dan puan rasanya merindu?

surat lama

sepi membawaku pada surat-surat lama kita kekasih…
isinya melulu tentang bagaimana aku selalu menyakitimu, menambahi bebanmu, melarutkanmu dalam setiap kesedihanku, dan segala hal yang seharusnya tak pantas kulakukan pada orang yang selalu kukasihi sepertimu.
ku yang tak pernah bisa menempatkan diri dengan bijak pada kondisimu
ku yang tak selalu ada di setiap kesulitanmu
hanya maaf, maaf, tak berkesudahan yang bisa kuucap… semoga persediaan maafmu masih banyak

trafficking

Saat terbangun pagi tadi, saya kaget melihat perempuan mungil berdiri di depan pintu kamar. Ketika saya tanya, ternyata ia salah satu penghuni rumah utama tempat saya kost. Saya tinggal di sayap kanan, di lantai dua. Sementara rumah utama di tengah, hanya satu lantai. Dan sayap kiri terdiri dari tiga lantai yang sepertinya hanya digunakan sebagai tempat usaha sarang burung walet.

Baru kali ini saya melihat perempuan itu dan memang hanya sekali ini ada penghuni rumah bawah yang naik ke tempat saya tinggal. Melihat rasa ingin tahunya demikian besar sampai mengintip2 kamar saya dari jendela, saya mengajaknya masuk kamar untuk mengobrol. Wajahnya polos. Kulitnya coklat. Hidungnya agak kecil. Matanya terlihat awas, bergerak-gerak terus.

Dia cerita baru tinggal di rumah itu dua hari. Ia berasal dari Balangan, Kalimantan Selatan. Katanya ia masih ada hubungan keluarga dengan bapak kost. Usai lebaran kemarin ia dijemput ke rumahnya dan atas izin ibunya ia ke Balikpapan untuk bekerja di restoran.
“Ternyata bohong. bukan di restoran tapi kerja di rumah. Saya ditipu. Capek, mau pulang saja,” katanya dengan logat melayu.

Kutanya umur, ia bilang jalan 14 tahun.
“Hmmm…trafficking,” kata saya dalam hati.
Meski ada hubungan keluarga, tapi si perempuan diajak, tanpa dokumen, dijanjikan pekerjaan, tertipu pula. Intinya semua proses dan alur trafficking sudah terjadi. Tapi tanpa semua proses dan alur itu pun, ini jelas trafficking, karena si perempuan masih di bawah umur. Ia masih kanak- kanak. Katanya ia kelas 1 SMP, tapi keluar sebulan lalu karena malu badannya paling gede di kelas. Ia juga sering dimarahi guru karena malas mengerjakan tugas di papan tulis.

“Habisnya banyak, saya malas, malu ke depan kelas, udah besar,” katanya.
“Tapi saya tak betah disini, bapaknya bohong. Katanya kerja restoran, ternyata jadi pembantu,” katanya lagi.

Saya tanya apakah ia ingin pulang saja ke Banjar. Apalagi ia cerita sebenarnya bapaknya tak mengizinkan ia pergi dan menyuruhnya terus sekolah. Tapi ibunya memberinya izin. Ia pun ingin cari pengalaman kerja.
“Kalau masih kerja di rumah, saya pulang saja. Itu, kak y**** mulutnya jahat!” matanya berkaca- kaca saat mengucapkan itu.

“Kamu diapain? Apa katanya?” tanyaku
“Suka perintah-perintah. Sikit-sikit, marah. Salah sikit, ngomel. Kalau nyuruh, dia bilang: heh, ambil itu, babu!” matanya makin berair. Ia mendongak agar air matanya tak jatuh. Lalu membuang pandang menghindari tatapan saya ke arah jejeran buku-buku saya di rak dan di atas lemari.
Ia bertanya, “Kamu kuliah? Itu tivi beli sendiri?” Saya hanya menggeleng. Tak bisa mengucapkan apa-apa.

Jeda agak lama, saya bertanya, “Kamu mau pulang ke Banjar?”
“Kalau kerja di restoran, saya ndak pulang. Mau cari pengalaman. Kalau kerja di rumah, saya pulang saja. Mau kerja bungkus roti di Banjar. Tapi harus ada ijazah,” jawabnya.

“Kalau mau ijazah, sekolah dulu. Sekarang saatnya sekolah, bukan cari pengalaman,” kataku.
Ia terlihat bimbang sejenak. Lalu, “Tuh, di bawah, kak N****, kak Y****, belum bangun. Kalau di kampung, tak baik anak perempuan bangun siang. Di sini, saya kerja semua. Bangun jam 5 subuh, habis sholat nyapu, ngepel, masak, goreng ikan, nyuci. Kalau mesin rusak, pakai tangan. Pakaiannya banyak. Capek”.

“Kalau kerja di restoran pasti lebih capek daripada sekarang. Bangun sebelum subuh, tidurnya tengah malam. Ga ada waktu istrahat kayak sekarang. Mending sekolah,” kataku mempengaruhinya sambil terus berpikir, bagaimana memulangkan anak ini ke kampungnya. Rasanya terlalu berat membiarkan anak sekecil itu mengerjakan seluruh pekerjaan di rumah segede ini. Ia harus sekolah, bukan bekerja.

Tak lama terdengar langkah kaki menuju kamarku. Ia setengah meloncat ke pintu. Ada yang datang mencarinya. Saya khawatir ia tak boleh lagi naik ke kamarku untuk mengobrol. Jangan- jangan saya pun tak lama lagi harus pindah dari tempat kost ini. “Kata orang rumah bawah, disini tak ada orang. Ternyata bohong juga, ada orang disini,” begitu katanya tadi.

Bersama pencarinya, ia berlalu. Dan… aaahhh, saya lupa menanyakan namanya.