Menghapus tulisan tentang perasaan, itu seperti menghapus kenangan. Menghapus kenangan, kadang-kadang sama sakitnya dengan mencabut gigi yang masih utuh. Tapi gigi itu ga saya buang ke atas. Saya simpan dengan rapi di bawah bantal. Berharap seperti dongeng, saat bangun nanti ada hadiah kejutan dari peri malam, pengganti gigi yang dipaksa tanggal.
Ketika membuka email tadi, salah satu email meminta saya mengirim ulang proposal yang saya usulkan kemarin. Kalimat pembukanya: “Yang terhormat, pemenang fellowship ….”
Seharusnya saya bergembira, meloncat-loncat, menari-nari, merayakan datangnya email itu. Tapi bekas gigi tanggalku meninggalkan denyut kesakitan. Ada kenangan perih yang menyertai datangnya kabar ini.
Saya belum tau apakah ini hadiah dari ibu peri atau bukan. Saya akan menanyakannya. Mungkin… ia baik juga untuk tempat melarikan diri.