Suatu hari di tahun 2006, aku pernah menorehkan catatan ini:
NB; Nebeng Bentar…
Gw ga pengen jadi perempuan yang mengajarkanmu melawan dan membantah orang tua. Gw ga mau jadi perempuan yang menghalangimu untuk berbakti. Demi ibumu, perempuan yang gw hormati, dan demi bapakmu, lelaki tempatmu mengabdi, gw rela menghilang dari kehidupanmu. Semoga ini melegakanmu. Tak ada yang salah dan tersakiti. Gw rela. Banyak kehidupan di luar sana yang begitu indah dan jauh lebih penting dari sekedar gw!
(one day without him)
Aku menulisnya lagi untuk mengingatkan diriku bahwa aku pernah membentur dinding demikian tebal hingga mendatangkan rasa sakit yang begitu pekat.
Seharusnya tak ada tangisan lagi. Toh sampai kiamat pun, permohonan untuk memilih kebangsaan saat dilahirkan tak akan pernah terkabul.