Awal 2006, gw dan tiga teman lainnya yang bertugas di daerah, ditarik ke kantor pusat. Kami akan dipromosikan magang untuk jenjang karier berikutnya. Tapi teman gw yang perempuan, memilih keluar dan berkarir di media nasional. Dia di Jakarta sekarang. Satu orang, laki, memilih menjadi anak ’sopan dan rajin’ di hadapan bos2 meski tidak memiliki skill. Kariernya melaju pesat, tiga loncatan sekaligus. Satu orang lagi, laki-laki, menerima tawaran kerja di grup bisnis narasumber kami dulu. Dia di kota S, kariernya sangat bagus. Sementara gw bertahan dengan kekeraskepalaan dan hasilnya, karier jalan di tempat.
Hubungan gw dengan dua kawan yang keluar itu, sangat baik dan tetap akrab. Kami sering nongkrong bareng. Dulu saat ultah kantor, kami bertiga tidur di kamar yang sama di hotel. Ketika bolak balik ke S untuk kontrol ke dokter, gw selalu nginep di tempat temen laki-laki gw itu. Udah sangat akrab dan seperti saudara kandung. Setelah ga kontrol ke dokter di kota S, hubungan kami biasanya via telpon dan ym. Pukul berapapun dia pengen curhat atau sekedar ngobrol ngalor ngidul, gw ladenin.
Tapi kini kami putus kontak sama sekali. Gw ga bisa ingat gimana awal-mulanya. Hubungan kami terputus setahun belakangan. Gw masih sering sms dan nelpon-nelpon dia ke beberapa nomer telponnya yang masih aktif, namun tak pernah sekalipun dijawab. Begitu juga dengan ym- nya. Gw ga tau pasti gw salah apa ma dia. Walaupun sedih karena merasa dihindari olehnya, berkali-kali gw coba menghibur diri. Gw bilang, ah, paling2 dia butuh waktu untuk sendirian, mungkin kali ini masalahnya lagi numpuk.
Lalu gw tiba2 melihatnya tadi siang. Kami berada di ruangan yang sama, saat makan siang di mall. Gw perkirakan dia udah melihat gw sejak beberapa saat lamanya. Gw sempet warawiri di sekitarnya mencari meja kosong dan akhirnya dapat meja yang diantarai dua meja darinya, dalam posisi berhadapan. Gw lagi ga pake kacamata sehingga berkali-kali memicingkan mata untuk memastikan orang itu benar dia. Tapi, OMG, tampaknya dia meminta temannya pindah tempat duduk yang tepat menghalangi pandangan gw ke dia.
Ah, semoga ini pikiran jelek gw aja. Dia sepertinya sengaja menghindar. Entah untuk alasan apa. Gw hanya boleh menatapnya dari kejauhan. Oh, nggak, gw pun ga boleh menatapnya lagi. Jadi gw mempercepat makan siang gw dan beranjak dari sana. Gw ke Gramedia beli kado untuk ponakan gw. Sebisanya gw menghindar lagi bertemu orang yang gw kenal. Terlanjur sakit hati. [eh, apa hakmu sakit hati?] Tapi gw bertemu ibu-anak-cucu yang awal2 gw disini udah gw anggap ibu gw sendiri.
Aaahhh….lagi2 gw mempercepat langkah gw, keluar secepatnya dari mall. Ternyata oh ternyata, di luar sana, ada temen gw yang tadi. Jadi gw berjalan pelaaaaan, nunggu dia naik jembatan penyeberangan, berada di seberang mall, naik ke angkot, dan lenyap dari pandangan. Barulah gw melangkah lagi. Ini menyiksa. Sementara gw ga tau salah gw apa!
Ditulis dalam terbakar amarah sendirian