Oleh: senandung | April 23, 2008

dinding

“ah, saya benci
seperti mendahului kehendak tuhan
tapi bagaimana pun kondisi itu harus disiapkan”

Terima kasih, my dear. Obrolan panjang tadi, sungguh melegakan. Membuat kita terbebas dari ruang gelap. Meski di depan sana masih ada dinding tebal yang harus kita lewati. Tak mengapa. Asal bersamamu, takkan ada jalan terjal. Meski harus menunggu di ujung waktu, tangan kita takkan saling melepas jalinan. Hati kita takkan usai mengingat janji yang sudah terucap.


Tanggapan

  1. optimis!

  2. undangannya jangan lupa mbak..:D

  3. romantis mbak,,keyeen :D

  4. sep… ini yg saya suka dari mbak yati

    tetap semangat dan optimis

    nunggu undangan hari H nya aja deh

    *salam saya buat matahari

  5. matahari lagi bikin telor mata sapi mbah…

    btw kok ini pada undangan semua yah ?

    undangan apa toh ?

    makan-makaaan

  6. how sweet :) semangat!

  7. Jadi kapan nih dan di gedung mana?

    Jangan yang terjal2 ya tangganya, bisa sesek napas gw :)

  8. [...] “Kau tidak menyakitiku, sayangku. Aku hanya sedang kacau. Aku takut pada benturan di dinding itu, yang meski tipis, bisa saja melukaiku. Padahal sudah kuimpikan tentang kelahiran anak-anak [...]


Beri tanggapan

Your response:

Kategori