“ah, saya benci
seperti mendahului kehendak tuhan
tapi bagaimana pun kondisi itu harus disiapkan”
Terima kasih, my dear. Obrolan panjang tadi, sungguh melegakan. Membuat kita terbebas dari ruang gelap. Meski di depan sana masih ada dinding tebal yang harus kita lewati. Tak mengapa. Asal bersamamu, takkan ada jalan terjal. Meski harus menunggu di ujung waktu, tangan kita takkan saling melepas jalinan. Hati kita takkan usai mengingat janji yang sudah terucap.
optimis!
Oleh: puput on April 24, 2008
at 5:42 pm
undangannya jangan lupa mbak..:D
Oleh: stey on April 25, 2008
at 3:30 pm
romantis mbak,,keyeen
Oleh: ika on April 25, 2008
at 4:08 pm
sep… ini yg saya suka dari mbak yati
tetap semangat dan optimis
nunggu undangan hari H nya aja deh
*salam saya buat matahari
Oleh: gandhi on April 25, 2008
at 6:29 pm
matahari lagi bikin telor mata sapi mbah…
btw kok ini pada undangan semua yah ?
undangan apa toh ?
makan-makaaan
Oleh: sapi modar on April 25, 2008
at 7:12 pm
how sweet
semangat!
Oleh: suci on April 26, 2008
at 8:29 am
Jadi kapan nih dan di gedung mana?
Jangan yang terjal2 ya tangganya, bisa sesek napas gw
Oleh: gagahput3ra on April 26, 2008
at 10:53 am
[...] “Kau tidak menyakitiku, sayangku. Aku hanya sedang kacau. Aku takut pada benturan di dinding itu, yang meski tipis, bisa saja melukaiku. Padahal sudah kuimpikan tentang kelahiran anak-anak [...]
Oleh: Putri dan Lelaki Angin « senandung pelangi menoreh senja on Juni 9, 2008
at 3:30 pm