pada pagi yang masih berselimut kabut
kurekam utuh detil wajahmu di pembaringan
–ah, lembut wajahmu terkoyak saat pejammu kau buka. membuyarkan nafsuku ingin mengecupmu
lalu bayangmu datang tepat waktu
di senja yang merona merah kesumba seperti perawan dalam pinangan
tapi yang kuingat hanya trotoar sepanjang jalan tak berujung
dan eratnya genggaman tangan kita
–bagaimana harus mengejarmu untuk kududukkan disisiku sepanjang waktu bila hanya bayang- bayang yang bisa kulukis tentangmu?
dan pada pekat yang merambah malam
kini kupahami merindu bisa mencipta dendam
–hei, kau tau? telah kubuat sebuah pelukan untuk pertemuan kita nanti agar perpisahan berikutnya tak menyisakan perih
* coretan bodoh dalam kantuk tak terperi :p