Iseng2 pada sebuah petang yang basah, saat jenuh menghadapi pekerjaan kantor yang ga abis2, saya duduk melamun di kantin menatapi gerimis yang masih membasahi bumi. Saya lalu berpikir untuk menuliskan sebuah petang yang sama dengan 20 tahun lebih yang lalu. Meminjam istilah Remy Silado, saya tarik sebuah memori yang saya perlukan dari lacinya [disertai gerakan tangan menarik sesuatu], untuk saya tuliskan di sini. Beginilah…
Saat itu, kami masih menghuni rumah panggung di tepi hutan, di ujung kampung. Sore, hari hujan. Tante dan kakak sepupu saya akan ke ladang, menengok tanaman jagung yang beberapa hari diguyur hujan. Juga menyiangi rerumputan liar di sela tanaman pokok. Saya bersikeras untuk ikut. Saya tau saya akan merepotkan. Mungkin menambahi beban mereka jika saya minta digendong karena jijik menginjak tanah becek sehabis hujan [jelas ga ada ojek, Cinta!]. Saya akhirnya boleh ikut, setelah merajuk tentu saja :p
Mungkin karena masih dongkol, sepupu laki-laki saya terus menjauh dari saya, bahkan sembunyi. Jelas saya ketakutan di tengah ladang jagung sendirian. Apalagi hari mulai gelap. Saya mulai panik, memanggil nama sepupu saya berulang-ulang. Tapi suaranya makin menjauh. Jadilah saya berlari2 di sela-sela tanaman jagung yang lebih tinggi dari saya. Kaki tergores2 putri malu, lengan dan leher teriris daun jagung yang lumayan bikin perih dan gatal2.
Akhirnya saya bisa menyusul sepupu saya di jalan pulang. Mendekati rumah, tangisan yang sedari tadi saya tahan2 akhirnya meledak. Bukan cuma karena panik. Bukan juga karena bekas irisan daun jagung di leher saya semakin perih terkena keringat. Tapi sebenarnya saya enggan pulang ke rumah sebelum jam makan malam. Saya ga mau disuruh ngaji karena saya lagi capek, gatal2, kulit perih. Sambil mandi, saya terus menangis, berharap mama menolong saya dengan mengatakan, “Udah, diem. Ayo makan malam dulu, abis itu langsung tidur ya!”
Tapi saya ga dapet kata2 bujukan itu. Yang saya dapat justru kata-kata keras dari Bapak. “Lha, tadi ga nangis, kok pas deket2 rumah tiba2 nangis. Ayo, ngaji dulu sebelum makan malam.” Haduh, kebohongan saya terbongkar rupanya. Dalam hati saya pun merutuki kengototan saya tadi. Kenapa harus ikut ke kebun ya? Coba di rumah aja, tidur, pasti jauh lebih nyaman.
*salah satu hari ketika kenangan masa kecil terus terngiang-ngiang. apakah ini juga panggilan pulang?