Ini bukan soal pengkhianatan padamu. Saya hanya sedang merindukan sesuatu yang lain. Mungkin bau apek sajadah yang selalu lembab dengan air yang masih menetes dari keningnya? Saya ingin mencium baunya sekali lagi. Bau yang mengingatkan saya pada airmata yang tumpah, dulu sekali, jauh sebelum mengenalmu. Saya juga merindukan bunyi sesuatu. Ingin mendengarnya sekali lagi. Bunyi ting dari earphone, tanda hadirnya peringatan itu.
Saya serakah. Tak hanya merindui bau apek, saya pun ingin kembali ke hari kemarin. Saat bau potongan rumput menghempaskan memori pada ratusan tanda dan nama yang timbul tenggelam mencari arti. Tapi nyatanya saya masih terpaku di tempat yang sama, seperti seperempat abad lalu. Sungguh serakah. Saya mengingatmu, ingin meneriakkannya. Tapi saya harus menahannya sekuat yang saya bisa.
Saya tak akan mengucapkannya. Karena mengejarmu dengan kata itu, seperti mengejar pelangi. Indah dipandang dari sudut yang tepat, tapi tak pernah bisa didekati. Sebaliknya saat berusaha abai, pelangi justru membelai pipi dengan sejuta kelembutan warnanya. Jadi biarkan saya menahannya, sekuatnya.
Tersadar di detik ini, saya tengah mengais keringatmu di sepanjang jalan yang kuingat kita lalui, tapi telah enyah oleh waktu dan menyisakan nafas panjangku sendiri. Terlalu lama dan jauh bentangan jarak itu. Saya hanya bisa merindukan saat bahu kita bersentuhan dalam jejeran langkah yang tak sengaja dibuat pelan agar kian lama kebersamaan kita. Saya rindu pada rasa saat jemari kita yang saling menggapai seolah tak sengaja lalu menimbulkan jengah pada raut wajah. Saya rindu saat kupeluk lenganmu, dan kubaui, dan kuhirup seutuhnya harum tubuhmu untuk kusimpan dalam dadaku. Saya rindu itu semua. Tapi kau seperti pelangi, indah dipandang dari titik yang tepat, tapi sulit digapai.
sabar ya mbak,….
suatu hari bau itu akan menjadi milik mbak selamanya, dan pelangi akan memancar dari kedua belah bola matanya
*kangen kliwon jadinya hiks….*
Oleh: Mbah Sangkil on 14 Maret 2008
at 3:59 pm
kangen pada ketidakmapanan?
Oleh: dewi on 14 Maret 2008
at 4:10 pm
yah, co
Oleh: venus on 14 Maret 2008
at 4:20 pm
cantik sekali headernya… ceriah gituh!
*ga mau komen soal postingna: beratz!*
Oleh: nesia on 14 Maret 2008
at 7:50 pm
bagusna gambarmu, co’
tapi kok kayak iklan KB ya?
ehuheuheuheuheuheuehuheuheue……. :ngacir:
Oleh: nelayan on 15 Maret 2008
at 12:04 am
[...] *salah satu hari ketika kenangan masa kecil terus terngiang-ngiang. apakah ini juga panggilan pulang? [...]
Oleh: panggilan pulang « senandung pelangi menoreh senja on 15 Maret 2008
at 5:53 pm
rindu siapa?
Oleh: puput on 15 Maret 2008
at 7:24 pm
Sapakah dia? Seseorang dari masa lalu? Atau si matahari?
*penasaran*
Oleh: merahitam on 15 Maret 2008
at 9:14 pm
menggapai pelangi adalah sebuah rindu…..
Oleh: kirara_imadoki on 30 Maret 2008
at 7:05 pm
“seperti mengejar pelangi. Indah dipandang dari sudut yang tepat, tapi tak pernah bisa didekati”
pelangiku juga begitu
still try to find a way to go there..
and it won’t be an easy way..
Oleh: putrinegeridongeng on 2 April 2008
at 1:41 am