Ini bukan soal pengkhianatan padamu. Saya hanya sedang merindukan sesuatu yang lain. Mungkin bau apek sajadah yang selalu lembab dengan air yang masih menetes dari keningnya? Saya ingin mencium baunya sekali lagi. Bau yang mengingatkan saya pada airmata yang tumpah, dulu sekali, jauh sebelum mengenalmu. Saya juga merindukan bunyi sesuatu. Ingin mendengarnya sekali lagi. Bunyi ting dari earphone, tanda hadirnya peringatan itu.
Saya serakah. Tak hanya merindui bau apek, saya pun ingin kembali ke hari kemarin. Saat bau potongan rumput menghempaskan memori pada ratusan tanda dan nama yang timbul tenggelam mencari arti. Tapi nyatanya saya masih terpaku di tempat yang sama, seperti seperempat abad lalu. Sungguh serakah. Saya mengingatmu, ingin meneriakkannya. Tapi saya harus menahannya sekuat yang saya bisa.
Saya tak akan mengucapkannya. Karena mengejarmu dengan kata itu, seperti mengejar pelangi. Indah dipandang dari sudut yang tepat, tapi tak pernah bisa didekati. Sebaliknya saat berusaha abai, pelangi justru membelai pipi dengan sejuta kelembutan warnanya. Jadi biarkan saya menahannya, sekuatnya.
Tersadar di detik ini, saya tengah mengais keringatmu di sepanjang jalan yang kuingat kita lalui, tapi telah enyah oleh waktu dan menyisakan nafas panjangku sendiri. Terlalu lama dan jauh bentangan jarak itu. Saya hanya bisa merindukan saat bahu kita bersentuhan dalam jejeran langkah yang tak sengaja dibuat pelan agar kian lama kebersamaan kita. Saya rindu pada rasa saat jemari kita yang saling menggapai seolah tak sengaja lalu menimbulkan jengah pada raut wajah. Saya rindu saat kupeluk lenganmu, dan kubaui, dan kuhirup seutuhnya harum tubuhmu untuk kusimpan dalam dadaku. Saya rindu itu semua. Tapi kau seperti pelangi, indah dipandang dari titik yang tepat, tapi sulit digapai.