Sore kemarin, penasaran saya bertanya ke Momon tentang nama anjingnya. Lalu saya juga bercerita bagaimana dulu bapak menamai dua anjing di rumah kami. Momon sempat bertanya, apakah cerita saya serius? Dan saya jawab, tentu saja sangat-sangat serius.
Saya masih SMP kalau nggak salah. Tiba-tiba harga cengkeh jatuh. Bertepatan dengan tibanya masa pensiun bapak. Padahal anak2nya, kami berlima, sedang butuh biaya sekolah. Kebun cengkeh kami yang mungkin paling luas di kampung, akhirnya nyaris tak berharga. Tapi bapak tidak lantas putus asa dan menebangi pohon2 itu untuk dijadikan kayu bakar seperti petani lain. Bapak membiarkannya tumbuh, berbuah, berbunga dan berjatuhan pada akhirnya tanpa dipetik.
Kemarahan bapak bukan dilampiaskan pada pohon-pohon berbunga wangi itu. Kemarahan bapak tertuju pada dua manusia yang mengurusi soal BPPC dan jadi biang kerok kehancuran petani cengkeh. Akhirnya dua nama itu diabadikan pada dua anjing kami. Satunya dinamai Nurdin Halid, satunya dinamai Tommy Soeharto. Tapi karena nama bapak juga Nurdin, anjing satunya diberikan ke penggarap sawah kami, dan namanya ya, asu, bukan nama lain. Sementara si Tommy masih di rumah. Tapi ga tau sekarang masih ada atau nggak. Namanya anjing kampung, Tommy ga selalu di sekitar rumah. Apalagi tanpa bernama Tommy pun, dia memang najis.
Ah, kenangan pada rumah selalu saja membawa haru biru dalam dada saya. Menjelang petang, saya melanjutkan perbincangan dengan Dian, tentang kerasingan kami pada rumah sebagai tempat pulang. Dan keharuan itu makin membuncah. Hingga malam tiba. Hingga berbincang sekilas dengannya.
Jadiiii…mmm… suara bindeng, serak dan bergetar itu bukan karena pilek, tapi kerinduan pada tempat pulang.
* Go Home? Kenapa rumah harus jadi tempat pulang? Ada yang tau jawabnya?
Ditulis dalam senja nan teduh