Lihat kan, semalem? Saya melakukan kebodohan yang sama lagi. Menangis tanpa sebab jelas. Tapi hanya di dekatmu saya bisa menangis. Dekat orang lain, ga akan, saya malu. Oh, bukan, bukan tanpa sebab saya menangis. Saya tau kamu ga sengaja menanyakan itu. Juga tak ada maksud menyebutku suka brantem karena ini [:p emang kamu ga nyebut gitu kan? hehehe, maap]
Ga tau kenapa, tiba2 saja airmata menganak-sungai. Bagian mana dari hatiku yang tersentuh dengan pertanyaan itu? Saya juga ga tau, bahkan ga ngerti. Mungkin bagian yang suka sedih, mungkin bagian yang suka tersinggung, mungkin bagian yang suka sakit, atau bahkan mungkin bagian yang sedang senang? Saya bener2 ga tau.
Lalu sisi lain hatiku berkata, saya kelewatan telah membuatmu kebingungan dengan tangis tak jelasku. Dan kenapa saya harus menangis saat bersamamu? Kenapa tak kutumpahkan saja semuanya ketika diingatkan dengan cara ini? Dan kau masih saja menganggapku tak jahat dan tak bodoh. Kau masih saja memberiku kalimat bijak meski tangisku telah mendominasi ceritamu tentang mereka yang digusur dari rumahnya oleh orang2 berseragam itu –sebuah hal yang jauh lebih penting dibicarakan, dibandingkan tangis tak jelasku–?
Maaf, kau terlalu baik. Tak seharusnya kuajak kau menangis untuk sebuah kenangan yang kualami sendirian. Tak seharusnya kuajak kau berduka untuk hal-hal yang seharusnya kuselesaikan sendiri.
Kau selalu baik. Maukah kau tetap menjadi mimpi indahku?