dia: halo. kamu baik2 aja kan?
gue:
iya, dah dikantor
dia: huff…kamu menyiksaku
gue: kenapa?
dia: karena kangen dan kawatir
gue: maap…. ![]()
gue: sibuk?
dia: enggak kok. ngobrol aja gue dengerin. cerita dong
gue: cerita apa?
dia: terserah
gue: ga ada cerita….gw cuma kangen
dia: sama…
jeda ========================
gue: …. *manggil nama dia*
dia: yes dear ?
gue: sibuk?
dia: sedikit
gue: ya uda…met kerja
dia: kamu ?
gue: sambil kerja juga
dia: ![]()
gue: ruangannya dingin?
dia: iya. kok tau ?
gue: banyak minum air putih ya say…
dia: iya..makasih ya
jeda ========================
dia: tuan putri
gue: ?
dia: manggil doang
gue:
love u
dia: love u 2 dear
jeda ========================
dia: say, gue balik dulu ya
gue: ya, hati2 ya sayang
Hanya segitu obrolan kita sehari penuh kemarin. Banyak jeda. Jeda yang menghantarkan kehangatan dalam bisu. Tapi kuingat suratmu suatu hari di masa lalu. Tentang indahnya membagi sunyi, membunuh sepi. Kita ditakdirkan hanya untuk menulis dan menulis. Karena saat lisan, kau diam akupun diam. Saat aksara, semua mengalir. Kita tertawa, kita menangis.
Indahnya bisa membagi kesunyian. Kau tak bicara, aku tak bicara. Tak perlu bicara. Kau diam, akupun diam. Tanpa bicara. Sibuk dengan pikiran dan ide masing-masing. Kita autis tapi kedua hati kita tetap bersentuhan. Sunyi namun hati kita bertautan. Kita berdua adalah sunyi, kita berdua adalah sepi. Sunyi dan sepi yang berbagi kehangatan.
Ditulis dalam Awan Kecil