Berapa orang yang meninggalkan kesan mendalam di hidup Anda? Lebih dua puluh tahun terlahir ke bumi, saya punya beberapa, kalau tak bisa dibilang banyak. Buat saya, semua orang punya kesan, semua orang memberiku pelajaran. Saya ingin mulai mengumpulkan cerita2 tentang mereka, agar kisahnya abadi, menjadi pelajaran buat saya. Syukur2 kalo juga jadi pelajaran hidup buat orang lain yang membacanya.
Tentang Perempuan Tangguh
PERTENGAHAN Desember 2007 saya mengenal Dian. Dian Lestariningsih lengkapnya. Kami tergabung dalam satu kelas menulis. Awalnya, saya agak segan mendahuluinya untuk ngobrol. Penampilannya, cuek, tomboy abis [saya seperti bercermin ke masa lalu, hehehe...] sehingga rasanya tak ada celah untuk memulai obrolan. Tapi saat perkenalan diri, saya cukup tersentak dengan kalimatnya. “Uh, malu gw punya mulut Jawa kek gini,” sambil menampar pelan mulutnya.
Iya, di tengah kelas yang banyak berbicara soal Indonesia yang sarat persoalan diskriminasi dan ketidakadilan, konflik antar etnis, media yang bias, saya memahami kegemasannya pada ‘mulut Jawa’nya. Sebab ternyata dia orang yang begitu gelisah memikirkan negeri ini. Dibalik ketomboyannya, dia ternyata menyimpan empati yang luar biasa terhadap persoalan lingkungannya. Dia benar2 paham cerita kelam soal sentralisme kekuasaan di negeri yang kami sebut, Indopahit, meminjam istilah Mas Andreas Harsono.
Di penghujung hari pertama kelas itu, saya baru tau kalo kami satu kost meski beda lantai. Saya dan Marta, seorang teman dari Harian Surya, Surabaya di lantai dua dan Dian di lantai tiga. Sore saat kami pulang ke kost dia bilang, dia tak tahan tanpa selimut. Desember, Jakarta memang agak dingin. Tapi dia bilang, dalam keadaan gerah pun, dia terbiasa berselimut. Maka kupinjami dia kain yang tak kupakai, karena sebaliknya, saya justru merasa sangat gerah selama di Jakarta. Tak banyak obrolan yang saya dengar darinya meski sore hingga malam kami jalan-jalan bareng.
Esoknya, dia mengajak kami keliling kawasan Kota Tua Batavia. Sedikit demi sedikit saya mengumpulkan kesan tentangnya. Bersamanya [dalam arti: makan, jalan, tidur, belajar] selama kurang lebih 2 minggu, membuat saya benar2 mengambil banyak pelajaran dari hidupnya.
Dia terlahir sebagai putri Solo, kerabat dekat keraton. Namun tak seperti dongeng2 tentang putri2 keraton, hidupnya sangat bertolak belakang. Terlalu sederhana, bahkan ’sulit’. Karena keadaan itu, tak jarang dia dan keluarganya dipandang sinis oleh keluarga besarnya. Tapi pandangan seperti itu justru membuatnya bangkit. Ia tak ingin dikerdilkan. Ia, dengan usahanya sendiri, akhirnya meraih begitu banyak impian remaja seusianya.
Kalo tak salah menyimak, saat duduk di bangku SMP dia ikut aktif menjadi jurnalis muda di koran lokal di Jogjakarta, Bernas. Harian Bernas ketika itu masih di bawah Kompas-Gramedia. Pengetahuan tentang jurnalistik ini, modal besarnya untuk menjadi seperti sekarang [yang akhirnya juga mempertemukan kami]. Saat SMA, dia berhasil dapat beasiswa (?) dan belajar di Jepang selama setahun. Prestasi-prestasi itu, membuat mata keluarga besarnya sedikit terbuka.
Lalu pencapaian besarnya yang lain saat dia menjadi manajer sebuah grup band ternama di negeri ini [halah, sebut aja, Sheila On 7]. Sebagai remaja yang ketika itu juga gandrung pada Sheila On 7, sedikit-sedikit saya juga mendengar namanya dari berbagai media. Yang saya tau, ribuan remaja saat itu, memimpikan posisi Dian, agar bisa terus menerus berada dekat idolanya, menjadi terkenal, bisa menjelajah pelosok negeri, dielu-elukan dan diprioritaskan. Dan tentu saja kaya raya!
Dian bisa mendapatkan semuanya. Ratusan juta bisa mengisi rekeningnya. Pandangan hormat dari keluarga besarnya akhirnya didapatnya. Semua orang amat sangat ramah padanya. Semua orang!
“Tapi semuanya hanya di permukaan. Yang sebenernya, kosong, hampa” kata Dian.
Dia pun meninggalkan band itu persis di masa ngetopnya, usai tiga album yang selalu sukses. Dian merasa seperti tak kenal dirinya saat itu. Tak pernah ada waktu untuk diri sendiri. Tidurnya di jalan, dari satu show ke show yang lain. Pulang ke rumah sekali sepekan, hanya beberapa jam. Dia lelah. dia capek. Dia berhenti.
Lalu persoalan demi persoalan menghampiri. Dan orang2 yang dulunya ramah, menjauh. Duitnya diembat Rp 200 juta. Berdiam diri sebulan lamanya tanpa aktivitas. Lalu perlahan dia bangkit lagi. Menyelesaikan kuliah. Bekerja. Menjelajah. Dari barat hingga ke timur negeri ini. Lalu ke beberapa negara. Saat ini dia aktif di NGO asing di Jogja, sebagai PR. 2008, mimpinya keluar lagi dari Jawa. Kembali menulis.
Pelajaran apa yang saya dapat? Buanyakkk. Ini hanya sedikit diantaranya. Bahwa, pandangan sinis tak harus menjadikan kita kerdil. Bahwa, teman sejati bukan tak ada, cuma emang rada sulit ditemukan. Bahwa, ketenaran tidak selalu membawa kebahagiaan.
Sahabat, teruslah jadi perempuan tangguh ya!
Ditulis dalam Penoreh Pelangi