Kemarin siang, setelah menghilangkan kegerahan dengan memangkas rambut, saya ke rumah sakit. Rupanya ibu kantin yang abis kecelakaan hari Senin lalu, masih harus nginep di rumah sakit. Setiap bangun, kepalanya masih pusing. Oleh dokter, dia masih diharuskan tinggal di sana meski katanya setelah difoto, kepalanya nggak apa2.
Ruang perawatan ibu kantin berada di ujung kompleks rumah sakit. Dalam satu ruangan, ada empat tempat tidur, tapi hanya ada tiga pasien, termasuk ibu kantin. Saat saya tiba, bapak kantin sedang menikmati makan siangnya. Jadi saya ngobrol2 dengan ibu kantin. Tapi tak banyak yang kami obrolkan. Ibu kantin belum bisa banyak ngobrol dan bergerak. Kami berdua hanya memperhatikan pasien lain di ruangan itu.
Kami berdua tertarik dengan pasien di sudut yang berlawanan dengan tempat tidur ibu kantin. Pasien perempuan, rambutnya udah memutih. Suster memanggilnya ibu Maria. Suaminya, juga udah tua. Badannya mulai bongkok. Tapi rambutnya masih hitam, selegam alisnya. Mereka berdua suka tersenyum dan rajin nanya ke suster. Saat disuntikkan insulin ke lengan ibu Maria, dia bilang, dia juga mantan suster. Setelah disuntik, mereka berdua tidur bersisian di satu ranjang sambil ngobrol riang.
“Begitulah kita nanti. Hanya berdua di masa tua, tak ada anak, saling menjaga seperti adik-kakak,” ibu kantin menyela keasyikanku menonton pasangan tua itu. Tak lama, ibu Maria tampaknya ingin ke toilet. dengan hati2 ia bangun dan menyingkap selimutnya. Suaminya menggulung celana panjang hitamnya, lalu meraih lengan istrinya. Tapi ibu Maria tampaknya merasa bisa berjalan sendiri, lalu melepaskan tangan suaminya. Suaminya berjalan cepat, membukakan pintu kamar mandi.
Tapi ibu Maria mampir buat ngaca di depan toilet. Suaminya meringis, “Waduh…”. Istrinya mematut diri di depan cermin, kembali merapikan rambut putih sebahunya dengan memasang sebuah bando hitam. “Gimana?” tanyanya pada suaminya. Sang suami dengan senyum lebar mengatakan, “Cantik, kok! Kamu cantik.” Puas dengan jawaban suaminya, ibu Maria masuk kamar mandi. Suaminya menunggu di depan pintu. “Hati2 ya sayang, sendiri aja ya, saya tunggu di sini,” katanya sambil merapatkan pintu.
Hei….dada saya berdesir. Saya sukaaa adegan mereka. Dan tiba2 saya merindukan bapak-mama. Akan begini jugakah mereka nanti saat saya tak bersama mereka? Ya Tuhan, saya kangen! Lalu…saya membisiki ibu kantin. “Bu, harus diralat. Saat tua seperti itu, kita bukan seperti adik-kakak, tapi seperti orang pacaran.” Ibu kantin mengangguk lemah tapi sambil tersenyum.
Keluar dari kamar mandi, bu Maria tampaknya ingin menikmati angin sore di teras kamar yang menghadap ke taman. Suaminya mendudukannya di bangku teras lalu bergabung dengan keluarga pasien lain, penghuni kamar sebelah. Saya ikut duduk di sisi bu Maria. Membuka obrolan. “Ibu sakit apa?” Sambil tersenyum dia menjawab, “Katanya sih sakit diabetes. Padahal saya ga pernah merasa sakit. Ga ada sakitnya. Cuma, kalo abis makan, saya tuh pengennya makan lagi, makan lagi.” Saya tersenyum. “Saya juga heran,” lanjutnya.
Lalu kami mengalihkan pandangan ke taman. Jam besuk telah tiba. Banyak anak kecil bermain di taman. Mereka melempari burung2 gereja dengan remah2 roti. Burung2 kaget dan beterbangan ke pohon cemara. Kini cemara itu seperti berbunga burung gereja di setiap pucuknya. “Indah ya!” kata Bu Maria. Saya menoleh ke arahnya. Tangannya menunjuk ke taman, “Anak2 itu suka.” Saya mengangguk.
“Ayo bu, udah waktunya makan. Udah stengah jam abis disuntik,” ajak suami bu Maria sambil tersenyum ke arahku. Saya ikut masuk lagi ke ruangan, ke sisi bu Kantin. Mata saya terus melihat ke pasangan tua itu. “Mau makan sendiri atau disuapin? Makan sendiri aja, ya,” kata suaminya lagi. Bu Maria mengangguk dan mulai menyendok makanannya.
Lagi-lagi dada saya berdesir. Lalu pikiran saya menerawang….
*) kisah ini buat kamu. bu kantin juga bilang ‘ma kasih’ atas doamu. love u!