kau tak akan pernah memahami fungsi selat dan laut sebagai penghubung antar pulau, kalau kau tak pernah memahami fungsi sungai sebagai penghubung gunung dan pantai
Kalimat itu terus berdengung di telinganya, membawanya berjalan, jauh ke pelosok negeri. Detik ini ia berada di Aceh, di tepi samudera, sisi paling barat negeri ini. Esoknya dia terlihat menari bersama perempuan2 sub suku Dayak Kenyah. Esoknya lagi dia mengabariku sedang melawan dingin di kawasan Bromo, lalu beberapa saat ia telah bergeser ke kaki Semeru, tiba-tiba lagi berada di Sampit, lalu kembali ke Minahasa, dan sesaat dia telah mengayuh sampan di perairan tanah kelahirannya, Mandar.
Ia tak pernah lupa mampir ke sini. Seperti kemarin, setelah dua tahun lalu ia juga mampir, bercerita tentang perjalanannya. Ia selalu saja membuatku iri. Ia kini bisa bercerita tentang titik dalam peta nusantara yang sudah dihubungkannya dalam catatan perjalanan. Aku tak bisa berkata apa2, cuma bisa mendengar ceritanya dengan segudang rasa iri. Eh, aku sempat bilang sama dia kalo sekarang aku udah bisa maen biola dikit2, setelah dulu aku gagal belajar biola dari dia. Dan setelahnya, dia memanas2iku untuk belajar harmonika. Dan, seperti kebo dicucuk idungnya, aku nurut aja, langsung beli harmonika kecil kemarin, langsung belajar.
Dan sebelum kami berpisah, ia berbisik, “Mungkin saya akan menetap, berbuat sesuatu yang lebih nyata, menyatukan pemuda2 yang dengan tangannya sendiri membangun usaha kecil, tanpa campur tangan pemilik kapital dari negeri pusat kekuasaan bernama Jakarta“. Hueksss…dia membuatku iri dua kali. Pertama dengan cerita2 perjalanannya menghubungkan titik-titik dalam peta nusantara. Kedua, sebelum aku mengikuti jejaknya berkeliling nusantara, dia menyetop langkahku dengan pesan:
tetaplah berdiri di sini, sama seperti dirimu yang kukenal sejak pertama kali. dalam pikiran yang jernih, tindakan yang suci, dan hati yang tenang dan damai. pegang erat ketiganya, jangan pernah goyah.
Dengan semua gempuran persoalan ini, apa dia pikir pesannya itu tidak berat?
berat banget dunk! ustat aja sring goyah! jadi, yang pasti-pasti aza lagi!!! yuuuukz
Oleh: wira on 28 November 2007
at 7:16 pm
beliau kerja apa mbak ?
*agak dikit sinis, gejala iri*
Oleh: puput on 28 November 2007
at 8:41 pm
^^
sama kek gue, nelayan :lowprofile-mode-on:
nb: sinis gak ada di laut, mbak….yang ada mah sisik….;P
wekekekekekeke……………. :ngacir:
Oleh: nelayan on 28 November 2007
at 11:58 pm
iya pesannya berat banget..
Oleh: aprian on 29 November 2007
at 4:57 pm
keren banged!
Pesannya itu bikin aku merinding bacanya
terimakasih atas postingan ini
serasa ‘diingatkan’ kembali
Oleh: jejakkakiku on 29 November 2007
at 6:24 pm
wah. mengesankan. aku selalu tergetar memikirkan jiwa-jiwa pengembara, seperti kawanmu ini. salam kenal!
Oleh: panda on 30 November 2007
at 12:34 am
amanatnya menenysakkan dada, apalagi klo udah bercampur dengan iri2 itu. hehe..
saya pernah kesini non, dulu.. lama, juga ke rumah lainnya.
Oleh: dewi on 30 November 2007
at 5:05 pm
[...] ’sesuatu’ dengan simbok dan uyo beberapa detik lalu di YM, membuat saya teringat pesan kawan saya yang datang November lalu. Tetaplah berdiri di sini, sama seperti dirimu yang kukenal sejak [...]
Oleh: berat « senandung pelangi menoreh senja on 2 Januari 2008
at 2:19 pm