“Apa jadinya gw tanpamu?”
Kasih, pertanyaanmu itu, juga ada di ujung lidahku. Tapi seperti biasa, kutelan lagi lalu mencari jawabannya pada wajahmu yang kutatap diam-diam. Seperti biasa pula, aku berharap hati kita yang akan saling bercerita, jauh lebih banyak. Lalu mata kita yang bertemu dalam tatap malu-malu, memahaminya begitu saja.
Yang tak berhenti kusesali, doraemon tak meminjami kita pintu ajaibnya, untuk kembali ke masa lalu. Tak usah jauh-jauh, cukup dua hari ke belakang. Aku ingin menikmati debar indah itu lebih lama. Aku ingin menikmati saat-saat ketika rasa rindu yang menggila itu tertumpah hingga berceceran di sepanjang jalan hingga depan toko buku.
“Udah lebih dari cukup, kok”
Itu jawabmu ketika lagi-lagi aku merutuki waktu yang berlari terlalu cepat dan memisahkan kita di depan pintu kaca. Kalo saja burung besi itu tidak delay sepanjang hari dan membuatku terkatung-katung di kota buaya. Kalau saja rasa ngantuk tidak menyerangku malam itu. Kalau saja aku bisa bolos dan tau jalan pulang. Kalau saja aku ga lupa mengundurkan waktu kepulangan. Kalau saja jarak kota itu dan kotamu sejauh belahan bumi yang lain.
Terlalu banyak ‘kalau saja’ yang tak tercapai dan membuat kita terdesak dalam himpitan waktu yang tak ramah. Tapi ya, sudahlah. Kuturuti katamu, ini sudah lebih dari cukup buat kita. Ya, 340 keping senja yang kita lewati dalam bentangan jarak ini, telah cukup membuat kita kuat, untuk menahannya, sebulan lagi, semoga!
Miss u, my luv….
Ditulis dalam Awan Kecil