November berjalan pelan. Mungkin karena tanahnya becek terguyur hujan. Langkah angin tetap lebih cepat. Semalam ia tiba di sini. Membawa kabar darimu. Dalam surat yang basah karena terpaan kabut, kau menulis:
Angin tak dapat direngkuh. Cobalah suatu sore berdiri di atap, saat itu angin akan datang. Ia yang akan merengkuhmu. dekap. mesra.
Hei, pemburu pelangi senja hari; berdiri di atas atap, katamu? Itu ga bikin masuk angin? Kalau selendangku terbang ke awan, kau mau memburunya untukku? Hmmm….baiklah, akan kucoba suatu hari, berdiri di atas atap, kalau aku udah ga takut ketinggian lagi. Aku phobia ketinggian, sayang!
kenapa harus phobia ?
kan ada aku disisimu
Oleh: badai sapi on Nopember 7, 2007
at 5:59 pm
*terdiam*
Oleh: jejakkakiku on Nopember 8, 2007
at 10:20 am
eh yang ini :
Ia yang akan merengkuhmu. dekap. mesra.
terdengar sama dengan :
Apakah kau masih membelaiku selembut dahulu
ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra,
lebih dekat…
*ambil sandal, pulang*
Oleh: temennya soe hoke gie on Nopember 8, 2007
at 4:26 pm
lagi ngapain bawa2 selendang sih? kek ibu2 jaman dulu aja. perempuan yang aneh :p
Oleh: venus on Nopember 9, 2007
at 10:35 am
hahahhaha…simbok…
ketawa ajah deh
Oleh: jejakkakiku on Nopember 9, 2007
at 1:33 pm