sayang…
sedang apa di sana? sedang menatap langit? membaca bintang gemintang? atau sedang berjibaku dengan deru kendaraan yang merayap di belantara kotamu?
yang sedang kau baca ini adalah rekaman ulang rasaku dalam untaian aksara. sengaja kutulis di sini agar ia abadi. karena ingatanku padamu telah memenuhi memori otak. kerinduanku membuncah memenuhi rongga dada. lukisan bayangmu pada batas cakrawala yang mulai memerah, tampak memudar. saya merekamnya disini, saat namamu yang kutorehkan di langit mulai tertutup mendung. saya merindukanmu amat sangat dan hanya bisa kurekam di sini, agar ia abadi.
saya ingin menulis banyak hal buatmu. tentang rindu, tentang cinta, tentang kesepian, tentang angin malam, tentang laut yang menjauhkan kita, tentang langit yang tak terbaca, tentang racun2 yang terlahir dari perut bumi. Ah, banyak sekali. saya senang bisa berbagi denganmu tentang segala hal. tak peduli pada tangan yang kehilangan rasa setelah lelah menari di depan layar komputer. tak peduli pada tatap rabun kelopak mata yang mulai enggan terbuka lebar. tak peduli gendang telinga menutupi bunyi dari lonceng pos jaga yang telah berdentang empat kali. tak peduli. saya hanya ingin selalu berbagi denganmu. mendengar ceritamu hari ini. kesedihanmu, kekesalanmu, kerianganmu, semuanya, apapun.
ingatkah kau pada pertemuan kita sekira sejam lebih sekian menit dan detik itu? dengarkah kau jeritanku ketika itu merutuki betapa waktu terlalu cepat berlari tanpa memberi kita kesempatan bertatapan lebih lama? waktu tak juga mengerti ketika pipiku menganak-sungai-memohon-segala-bijak agar mengembalikan kita pada sejam-lebih-sekian-menit-dan-detik-itu, setiap saat. saya hampir saja memutuskan asa yang mengembang sempurna itu, kalau saja kau tak setia mendatangi mimpi2 malamku.
kini, telah lebih 200 keping senja kita lewati. lebih separuh tahun kita lalui. api itu masih menyala di sudut hati. di tempat yang sama, di tepi hujan yang turun malam ini. sedetik pun saya tak pernah berniat beranjak dari sini, tempatku selalu, menatapmu dari jauh, berjaga saat kau terlelap, dan menunggumu kembali setelah menjauh.
saya, si perempuan gurun, hanya ingin kau selalu tersenyum seperti matahari pagi!
I love you…
*sengaja kutulis di sini, bukan khianat, tapi agar ia abadi!