Posted by: senandung | Oktober 17, 2006

cinta yang sunyi

Kutatap kau pertama kali
bukan dengan mataku
Kusapa kau pertama kali
tanpa aksara
Kusentuh kau pertama kali
tanpa rasa
Kucumbu kau pertama kali
tanpa kecupan
Kudengar kau pertama kali
bukan dengan telingaku
Kusayangi kau amat sangat
dalam hati
Kudamba kau dengan caraku sendiri
dalam diam
Kucintai kau
dengan cara yang paling sunyi…

* mengapa menyakiti diri terasa begitu indah?

Tanggapan

pernah baca “women who love too much”?
kita perempuan biasanya emang suka nyakitin diri sendiri. mencintai laki2 yang tidak menginginkan kita, menggilai lelaki yg belum siap berkomitmen.. stuffs like that.
jadi, yati..kamu gak sendiri. :)

menggilai lelaki yang belum siap berkomitmen….ato gw yg ga siap berkomitmen? hahaha…
thanks mba v…

wajar..wajar banget, katanya cewek itu memang masokis…cinta deritanya tiada akhir huhuy..tapi tetap ada pria dan wanita yang baik he he he

wah.. sebenarnya saya mau komen ini pake nada dasar apa?
eh.. pas liat komen2 sbelumnya… ck…ck…ck… ternyata…. bgitu toh…

..indah..

karena sakit begitu indah
karena sakit begitu hidup
karena sakit,
membentuk

dan biar bayang-bayang senja
menghalau sunyi
memecah sepi

*batu yang membisu, tersinari cahya jingga

karena mendamba dengan cara sendiri
maka hanya diri kita sendiri yang mampu menuntut bagaimana mendamba yang seharusnya

karena menyayangi dengan sangat itu sebuah pilihan dengan deretan konsekuensi yang bahkan diri kita sendiri yang membuat standart konsekuensi itu

*) mencoba untuk terus menimbun harapan

:( karena kita ndak mau keluar dari tempurung mbak?
maka menyakiti diri sendiri terasa begitu indah.. :|

[...] buku akan seserius ini. Saya pun mencomot beberapa tulisan [yang mirip puisi] dengan asal saja. Ini salah satunya. Ternyata… sekarang terbit. Tapi tetap saja saya berterima kasih kepada editor dan [...]

Leave a response

Your response:

Kategori